Cari Blog Ini

Minggu, 20 Juni 2010

Mengapa Kita Membaca AlQuran Meskipun Tidak Mengerti Satupun Artinya?


Bahasan kita kali ini agak berbeda dari biasanya, tenang saja justru inilah sesuatu yang baru bisa bikin adem di ati, aku pingin ngajak kalian jalan2 ke lembah-lembah hati
Nie artikelnya

Seorang muslim tua Amerika tinggal di sebuah perkebunan/area di sebelah timur Pegunungan Kentucky bersama cucu laki-lakinya. Setiap pagi Sang kakek bangun pagi dan duduk dekat perapian membaca Al-qur’an. Sang cucu ingin menjadi seperti kakeknya dan memcoba menirunya seperti yang disaksikannya setiap hari.Suatu hari ia bertanya pada kakeknya : “ Kakek, aku coba membaca Al-Qur’an sepertimu tapi aku tak bisa memahaminya, dan walaupun ada sedikit yang aku pahami segera aku lupa begitu aku selesai membaca dan menutupnya. Jadi apa gunanya membaca Al-quran jika tak memahami artinya ?Sang kakek dengan tenang sambil meletakkan batu-batu di perapian, memjawab pertanyaan sang cucu : “Cobalah ambil sebuah keranjang batu ini dan bawa ke sungai, dan bawakan aku kembali dengan sekeranjang air.”Anak itu mengerjakan seperti yang diperintahkan kakeknya, tetapi semua air yang dibawa habis sebelum dia sampai di rumah. Kakeknya tertawa dan berkata, “Kamu harus berusaha lebih cepat lain kali “.Kakek itu meminta cucunya untuk kembali ke sungai bersama keranjangnya untuk mencoba lagi. Kali ini anak itu berlari lebih cepat, tapi lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum sampai di rumah.Dengan terengah-engah dia mengatakan kepada kakeknya, tidak mungkin membawa sekeranjang air dan dia pergi untuk mencari sebuah ember untuk mengganti keranjangnya.Kakeknya mengatakan : ”Aku tidak ingin seember air, aku ingin sekeranjang air. Kamu harus mencoba lagi lebih keras. ” dan dia pergi ke luar untuk menyaksikan cucunya mencoba lagi. Pada saat itu, anak itu tahu bahwa hal ini tidak mungkin, tapi dia ingin menunjukkan kepada kakeknya bahwa meskipun dia berlari secepat mungkin, air tetap akan habis sebelum sampai di rumah. Anak itu kembali mengambil / mencelupkan keranjangnya ke sungai dan kemudian berusaha berlari secepat mungkin, tapi ketika sampai di depan kakeknya, keranjang itu kosong lagi. Dengan terengah-engah, ia berkata : ”Kakek, ini tidak ada gunanya. Sia-sia saja”.Sang kakek menjawab : ”Nak, mengapa kamu berpikir ini tak ada gunanya?. Coba lihat dan perhatikan baik-baik keranjang itu .”Anak itu memperhatikan keranjangnya dan baru ia menyadari bahwa keranjangnya nampak sangat berbeda. Keranjang itu telah berubah dari sebuah keranjang batu yang kotor, dan sekarang menjadi sebuah keranjang yang bersih, luar dan dalam. ” Cucuku, apa yang terjadi ketika kamu membaca Qur’an ? Boleh jadi kamu tidak mengerti ataupun tak memahami sama sekali, tapi ketika kamu membacanya, tanpa kamu menyadari kamu akan berubah, luar dan dalam.

YANG LEBIH HEBAT DARI SEKEDAR SPIDERMAN


Yup, pernah lihat film Spiderman kan? Dalam film itu dikisahkan Peter Parker seorang pemuda yang secara fisik dia culun ,lemah dan "tidak bisa berkelahi". Pada suatu hari dia dan teman-temannya melakukan study tour ke pusat penelitian laba-laba. Tanpa sengaja dia tergigit laba-laba yang terlebas dari "kandangnya". Ternyata laba-laba itu sebelumnya telah terkena sinar ,semacam sinar radio aktif. Sampai di rumah si Paker merasakan tubuhnya sakit, demam, pusing, nyeri. Ternyata dalam tubuhnya, kromosom dan gennya telah berinteraksi dengan zat yang masuk dari gigitan laba-laba tadi.

Yup, betul sekali karena berinteraksi dengan zat tersebut kromosom manusianya menjadi kromosom bentuk lain.Wal hasil, esok paginya Paker mendapati tubuhnya menjadi berotot dan matanya tidak lagi minus. Kemudian dia pun bisa lari lebih cepat dari biasanya, lompatannya juga lebih tinggi. Sampai di sekolah dia hendak dihajar oleh temannya, tapi apa yang terjadi? Parker yang culun itu bisa menghindari serangan si teman dengan mudah bahkan dapat balik menghajarnya. Lanjut cerita dia bisa manjat dinding dan mengeluarkan jaring sampai akhirnya dia menjadi SPIDERMAN sang pahlawan superhero yang namanya dikenal setiap orang dan ditakuti penjahat.
Wow keren ya, tapi ternyata kita pun bisa menjadi lebih dari spiderman. Gimana caranya?? Apa harus digigit laba-laba yang sudah terkena sinar radio aktif? Lihatlah tadi kromosom paker berinteraksi dengan zat dari gigitan laba-laba itu. Kita juga bisa menginterasikan diri dengan sesuatu yang sangat hebat,yang sangat luar biasa ,yang akan membuat kita lebih dari SPIDERMAN, SUPERMAN, BATMAN dan MAN-MAN yang lain, yang tentu saja jaaaaaaaaaaaaauuuuuuuuuuhhh banget lebih hebat dari zat laba-laba tadi. Apa itu???? Jawabnya tak lain adalah AL QURAN.
Coba bayangkan ketika seorang membaca Al Quran, mengetahui artinya, memahami makna serta tafsirnya. Al Quran itu akan masuk ke dalam darah,mengalir menyinari,menembus otak mencerahkannya, berinteraksi dengan DNA,kromosom,tulang menjadikannya lebih kuat sehingga terbentuk manusia-manusia yang luar biasa,manusia- manusia yang berani.Contoh orang yang berhasil menjadi manusia yang luar biasa karena berinteraksi dengan Al Quran adalah para Sahabat Rasulullah SAW. Bilal bin Rabbah ra.yang dulunya budak hitam (tanpa bermaksud merendahkan bekiau), menjadi pejuang Islam yang namanya dikenal setiap orang saat ini,muadzin Rasulullah SAW. Ali bin Abi Tholib ra menjadi pemuda yang sangat berani menggetarkan musuh. Thariq bin Ziyad sang penakluk selat Gibraltar, Rabi' bin Amr yang tidak mau ‘ndungkluk' dihadapan Rustum ,raja Romawi yang kafir. Wow keren kan ,orang-orang di atas adalah orang-orang yang menjadi luar biasa karena berinteraksi dengan Al Quran, yup betul sekali tentunya lebih hebat dari Spiderman, jauh banget. Bayangkan saja, Spiderman hanya bisa menaklukan segelintir perampok atau paling poll Globin dan DR.Octovius tapi Thariq bin Ziyad tadi bisa menaklukan selat atau negara. Allah Akbar.
Al Quran adalah dahsyat karena itu adalah petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Jika kita ingin menjadi orang yang berani, pembela kebenaran dan luar biasa maka berinteraksilah dengan Al Quran. Dengan Al Quran si penakut jadi pemberani, si lemah jadi kuat, si pecundang jadi pahlawan.
Pernah seorang pendeta nasrani berkata pada pengikutnya,jika kamu ingin menghancurkan pemuda Islam maka cara yang tepat bukan dengan memurtadkan mereka tapi dengan menjauhkan Al Quran dari mereka. Pendeta itu faham bahwa yang menjadikan pemuda Islam kuat adalah interaksinya dengan Al Quran, maka dia perintahkan pengikutnya untuk menjauhkan kita dari Al Quran. Dia begitu takut jika para pemuda dekat dengan Al Quran.
Maka,bangkitlah dengan Al Quran,jadikan tulangmu lebih kuat dengannya,otakmu lebih tajam dengannya dan hidupmu mulia.Dan jadilah lebih dari sekedar spiderman. Wallahu a'lam bishowb.

Jumat, 18 Juni 2010

Rayuan Setan Dalam Pacaran


Para pembaca yang budiman, ketika seseorang beranjak dewasa, muncullah benih di dalam jiwa untuk mencintai lawan jenisnya.

Ini merupakan fitrah (insting) yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Allah ta’ala berfirman yang artinya: Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan terhadap perkara yang dinginkannya berupa wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenagan hidup di dunia. Dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik. (QS. Ali Imran: 14)


Adab Bergaul Antara Lawan Jenis

Islam adalah agama yang sempurna, di dalamnya diatur seluk-beluk kehidupan manusia, bagaimana pergaulan antara lawan jenis. Di antara adab bergaul antara lawan jenis sebagaimana yang telah diajarkan oleh agama kita adalah:

1. Menundukkan pandangan terhadap lawan jenis

Allah berfirman yang artinya: Katakanlah kepada laki-laki beriman: Hendahlah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya. (QS. an-Nur: 30).

Allah juga berfirman yang artinya: Dan katakalah kepada wanita beriman: Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya. (QS. an-Nur: 31)

2. Tidak berdua-duaan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan (kholwat) dengan wanita kecuali bersama mahromnya.(HR. Bukhari & Muslim)

3. Tidak menyentuh lawan jenis

Di dalam sebuah hadits, Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat (janji setia kepada pemimpin). (HR. Bukhari).

Hal ini karena menyentuh lawan jenis yang bukan mahromnya merupakan salah satu perkara yang diharamkan di dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, (itu) masih lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya. (HR. Thabrani dengan sanad hasan)

Jika memandang saja terlarang, tentu bersentuhan lebih terlarang karena godaannya tentu jauh lebih besar.


Salah Kaprah Dalam Bercinta

Tatkala adab-adab bergaul antara lawan jenis mulai pudar, luapan cinta yang bergolak dalam hati manusia pun menjadi tidak terkontrol lagi. Akhirnya, setan berhasil menjerat para remaja dalam ikatan maut yang dikenal dengan “pacaran”. Allah telah mengharamkan berbagai aktifitas yang dapat mengantarkan ke dalam perzinaan.

Sebagaimana Allah berfirman yang artinya: Dan janganlah kamu mendekati zina, sesugguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS. al-Isra’:32).

Lalu pintu apakah yang paling lebar dan paling dekat dengan ruang perzinaan melebihi pintu pacaran?!!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah menetapkan untuk anak adam bagiannya dari zina, yang pasti akan mengenainya. Zina mata adalah dengan memandang, zina lisan adalah dengan berbicara, sedangkan jiwa berkeinginan dan berangan-angan. (HR. Bukhari & Muslim).

Kalaulah kita ibaratkan zina adalah sebuah ruangan yang memiliki banyak pintu yang berlapis-lapis, maka orang yang berpacaran adalah orang yang telah memiliki semua kuncinya. Kapan saja ia bisa masuk. Bukankah saat berpacaran ia tidak lepas dari zina mata dengan bebas memandang? Bukankah dengan pacaran ia sering melembut-lembutkan suara di hadapan pacarnya? Bukankah orang yang berpacaran senantiasa memikirkan dan membayangkan keadaan pacarnya? Maka farjinya pun akan segera mengikutinya. Akhirnya penyesalan tinggallah penyesalan. Waktu tidaklah bisa dirayu untuk bisa kembali sehingga dirinya menjadi sosok yang masih suci dan belum ternodai. Setan pun bergembira atas keberhasilan usahanya.

Iblis, Sang Penyesat Ulung


Tentunya akan sulit bagi Iblis dan bala tentaranya untuk menggelincirkan sebagian orang sampai terjatuh ke dalam jurang pacaran gaya cipika-cipiki atau yang semodel dengan itu. Akan tetapi yang perlu kita ingat, bahwasanya Iblis telah bersumpah di hadapan Allah untuk menyesatkan semua manusia. Iblis berkata: Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya. (QS. Shaad: 82).

Termasuk di antara media yang digunakan Iblis untuk menyesatkan manusia adalah wanita.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah (ujian) yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita. (HR. Bukhari & Muslim).

Kalaulah Iblis tidak berhasil merusak agama seseorang dengan menjerumuskan mereka ke dalam gaya pacaran cipika-cipiki, mungkin cukuplah bagi Iblis untuk bisa tertawa dengan membuat mereka berpacaran lewat telepon, SMS atau yang lainnya. Yang cukup menyedihkan, terkadang gaya pacaran seperti ini dibungkus dengan agama seperti dengan pura-pura bertanya tentang masalah agama kepada lawan jenisnya, miss called atau SMS pacarnya untuk bangun shalat tahajud dan lain-lain.

Ringkasnya sms-an dengan lawan jenis, bukan saudara dan bukan karena kebutuhan mendesak adalah haram dengan beberapa alasan: (a) ini adalah semi berdua-duaan, (b) buang-buang pulsa, dan (c) ini adalah jalan menuju perkara yang haram. Mudah-mudahan Allah memudahkan kita semua uantuk menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. (muslim.or.id)

Jika Sudah Kecanduan Pacaran...


KONON, hanya satu hal yang dapat mengubah kejiwaan remaja atau pemuda yang sedang bergejolak. Seorang pecandu rokok, pemain game atau pembolos ketika sekolah akan bertekuk lutut ketika sang kekasih memintanya untuk menghentikan kebiasaan buruknya. Atas nama cinta! Yah, itulah alasannya. Suatu alasan yang telah menjamur.

Namun, seperti yang di’konon’kan di atas, sangatlah tidak masuk akal dan tidak bisa dibenarkan. Mari mencoba melihat realita. Berapa banyak mahasiswa yang rajin, rela mengorbankan waktu belajarnya untuk pacaran. Dan yang gemar menabung, merelakan rupiah demi rupiahnya untuk sebuah candle light dinner.

Pada hakikatnya pacaran hanyalah memindahkan seseorang dari satu lubang ke lubang yang lain. Dan juga menyeret orang yang selamat ke sebuah lubang yang dimurkai Allah.

Sebuah analogi yang logis. Ketika seorang majikan sebuah toko, dia memiliki satu orang pekerja. Dengan satu orang pekerja yang dia miliki, dia mampu mengembangkan usahanya menjadi lebih maju. Semakin hari, usaha yang dia rintis semakin bertambah dan dia mengambil satu orang lagi sebagai pekerja. Kemudian dia menuturkan, jika satu orang pekerja memiliki power bernilai 4, ketika ditambah satu orang yang juga memiliki power bernilai 4. Hasil yang didapat bukan sekedar 8 power, namun 10 atau bahkan lebih. Kerja sama membuat mereka dapat bekerja lebih bagus.

...Berawal dengan sekedar chatting, bergandengan tangan, berciuman dan kemudian banyak yang sampai pada zina...

Berbeda lagi dengan dua orang yang dimabuk cinta. Ketika dia masih berstatus single, dengan tekad yang bulat dia mampu mengerjakan suatu pekerjaan dengan sendirinya. Namun ketika ada satu orang yang dianggapnya sebagai 'pacar', ketika suatu pekerjaan dihadapi, dia hanya berkata "yank, masa sayank tega sih liat aku ngerjain tugas sendirian?" tragis. Satu bukti bahwa pacaran melemahkan mental, menurunkan produktivitas dan mengacaukan agenda.

Pacaran adalah sebuah aktivitas yang menyiksa batin dan mempermainkan hati, permainannya menyebabkan hati menjadi sakit bahkan tidak sedikit yang hatinya mati dibuatnya. Kasus petinggi negara Indonesia, pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, zina anggota DPR bisa dijadikan contoh, atau perselingkuhan presiden terdahulu dengan istri orang, dan masih banyak lagi. Ketika hati tidak berfungsi sebagai pengontrol akhlak, banyak kejahatan yang ditimbulkan.

Juga ketika seharusnya remaja dengan jiwa mudanya mampu berkreasi dan memberikan gebrakan besar dalam kehidupan ini. Atas nama cinta dia dibuatnya tidak berkutik. Sehari tidak bertemu pacar, seperti ada sesuatu yang kurang, aktivitas dilakukan dengan tanpa ada semangat. Hampa dunia terasa, apalagi ketika 'putus'. Menandakan bahwa pacaran menjadikan hari-hari penuh dengan rasa was-was, dan tidak memberikan ketenangan.

Pacaran itu candu, bagaikan meminum air laut, di setiap tegukan memberikan rasa haus yang semakin bertambah. Pacaran itu bak pecandu rokok. Berawal dengan merokok menjadikan kebiasaan buruk lain muncul.

...banyak efek samping yang dapat ditimbulkan dari pacaran. Melakukan atau menjauhinya adalah sebuah pilihan, sebagaimana surga dan neraka yang bebas kita pilih, dengan konsekuensi masing-masing...

Pacaran itu candu! Berawal dengan sekedar chatting, lalu bergandengan tangan, kemudian berciuman dan akhirnya banyak yang sampai pada zina. Na'udzubillah min dzalik.

Masih banyak efek samping yang dapat ditimbulkan dari pacaran. Melakukan atau menjauhinya adalah sebuah pilihan. Sebagaimana surga dan neraka yang bebas kita pilih, dengan konsekuensi masing-masing tentunya. Karena hanya ada dua pilihan dalam hidup. Bahagia, atau binasa. Semoga Allah memberikan jalan terbaik untuk dapat kita tempuh dengan penuh kelapangan. [Rafiq Jauhary/voa-islam.com]

Bermula dari Pacaran, Terjerumus Ketagihan Gaul Bebas


Suatu ketika, seorang remaja putri sebuah SMA mengirim email kepada penulis. Hatinya tergugah setelah membaca salah satu artikel yang saya tulis berjudul “Jomblo vs Pacaran.” Ia pun menceritakan tentang pengalamannya yang kebablasan dalam bergaul sehingga melakukan hubungan seks di luar nikah. Setelah melakukannya, ternyata si pacar pergi meninggalkannya dan mencari cewek lain. Ia pun terluka tapi juga ketagihan.

Remaja cewek ini sadar perbuatannya salah tapi ia sulit melepaskan diri dari daya tarik gaul bebas. Selain itu, setiap kali ingin bertaubat, ia selalu merasa kotor dan tak pantas menerima ampunan Allah. Ia pun terjerembab lagi dalam lumpur dosa yang berkepanjangan.

Sobat remaja, cerita di atas adalah satu kisah nyata yang mewakili betapa memprihatinkan pergaulan generasi muda kita. Berawal dari pacaran yang makin membudaya di sekitar kita, pintu perzinaan jadi terbuka lebar. Banyak di antara remaja yang merasa malu bila dirinya belum pernah pacaran. Seakan-akan stempel ‘tak laku’ ditempelkan di dahi yang itu akan memalukan dirinya. Mereka pun berlomba-lomba untuk menggaet lawan jenis hanya sekadar agar tak jadi bahan olokan teman-temannya.

...Orang tua yang tak paham bahayanya gaul bebas, turut andil dalam memberi angin segar bagi pintu perzinaan...

Itu dari segi remaja dan pergaulan teman-temannya. Orang tua yang tak paham bahayanya gaul bebas, turut andil dalam memberi angin segar bagi pintu perzinaan. Orang tua bingung ketika anaknya tak ada yang mengencani di malam Minggu padahal si anak sendiri memutuskan tak mau pacaran. Belum lagi masyarakat yang individual dan tak peduli terhadap orang lain ketika ada yang melakukan kemaksiatan. Parahnya, negara juga tak mau tahu betapa bahayanya membiarkan remaja gaul secara bebas. Tabloid-tabloid yang mengumbar aurat, tayangan TV dan film yang mengarah ke ajakan mendekati zina, semua itu mudah mendapatkan izin terbit dan tayang. Dan semua itu makin menjadi di momen Februari karena ada perayaan maksiat bernama Valentine’s day.

Jadilah fenomena remaja yang ketagihan gaul bebas seperti kisah di atas semakin merebak. Di saat ia ingin taubat, sejauh mata memandang ajakan maksiat yang disaksikannya. Jadilah ia gamang untuk berubah menjadi muslim yang baik. Padahal Allah itu Mahapemurah dan pengampun asalkan manusianya sendiri benar-benar taubatan nasuha. Tapi gimana mau taubat kalau lingkungan malah mendorong dia makin berbuat maksiat?

Sobat remaja, kemaksiatan karena gaul bebas memang seolah-olah benang kusut yang sulit diuraikan dalam masyarakat kita. Tapi bila saja kita mau peka, ada satu ujung pangkal dari semua kemungkaran yang terjadi yaitu diterapkannya system demokrasi dan dicampakkannya syariah Islam dari tengah-tengah umat. Seperti kita semua tahu bahwa demokrasi ditopang oleh salah satu tiang bernama kebebasan berperilaku.

...kemaksiatan karena gaul bebas memang seolah-olah benang kusut yang sulit diuraikan dalam masyarakat kita. ...

Jadilah ada anggapan salah bahwa tiap orang bebas berperilaku semaunya tanpa ada satu pihak pun yang boleh melarang. Hal ini diperkuat dengan semakin parahnya virus sekulerisasi yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Gaul bebas terjadi karena pelakunya tidak menyadari bahwa kebebasan yang direguknya di dunia bakal dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Mereka, penganut gaul bebas itu lupa bahwa ada Allah yang Mahamelihat. Bila saja mereka menyadari bahwa tak ada satu jengkal tanah pun yang bebas dari pengawasannya, niscaya mereka tak berani berbuat melanggar syariat-Nya.

So, membasmi gaul bebas, ya basmi akarnya dulu. Yupz, demokrasi dan sekulerisme sudah waktunya dibuang ke tong sampah peradaban. Karena ada yang dibuang itu artinya ada yang dipake. Syariat Islam saja yang pantas untuk memimpin peradaban dunia yang beradab. Bila ini yang diambil, so pasti gaul bebas bakal dilibas. Gak bakal ada cerita remaja yang ketagihan berbuat maksiat. Hidup jadi aman dan nyaman untuk dinikmati. Jadinya, asik banget kan? Pasti iya donk. Sip dah ^_^
[ria fariana/voa-islam.com]
[email: riafariana@gmail.com]

Facebook Penting, Tapi Jangan Kecanduan


Facebook saat ini lagi booming. Hampir tak ada remaja di dunia ini termasuk Indonesia yang belum tahu apa itu Facebook. Bahkan adik-adik SD saja sudah banyak yang gabung di Facebook dan jadi pemain aktif di situs jejaring social itu. Apalagi usia SMP dan SMA, wuih…tak terhitung deh. Seolah-olah ada anggapan ‘gak gaul’ bagi remaja yang belum punya akun di Facebook. Duile…masa sih segitunya?

It’s okay kok. Punya akun Facebook boleh-boleh saja. Tak ada yang melarang dan juga tak haram. Lha wong Facebook kan cuma alat dan sarana kayak telepon atau surat kabar. Cuma yang satu ini memang lebih interaktif sehingga menarik perhatian dan mempunyai magnit yang lumayan dahsyat daripada yang lainnya. Karena magnit yang dipunya Facebook inilah yang menjadikan situs ini mempunyai efek candu alias ketagihan. Maunya update status mulu trus biar dikomentarin oleh orang se-Indonesia raya. Bahkan yang pingin dikomentarin oleh teman-teman dari negara lain, maka dia pun memakai bahasa Inggris biar pada ngerti tuh orang luar negeri. Jadilah Facebook hingar-bingar oleh banyak komen dan juga pernak-pernik lain.

Nah, karena efek candu yang dipunyai Facebook inilah yang harus membuat kita cerdas dalam memanfaatkannya. Ingat, Facebook adalah benda yang dikendalikan oleh manusia, bukan malah manusia yang dikendalikan hidupnya oleh Facebook. Tak usah update status setiap waktu bila tak perlu. PR-mu jauh lebih penting dikerjakan daripada mantengin Facebook dan memberi komentar ke jejaring teman-temanmu. Jadikan Facebook hadir di kehidupanmu membawa efek positif bukan malah sebaliknya. Kalau ternyata efek negative yang terjadi gara-gara Facebook, mending kamu gak usah punya akun sekalian aja di Facebook.

Jadi control diri dalam ber-facebook emang penting banget. Meskipun tak ada yang mengawasi secara langsung misalnya guru atau ortu, kamu tetap harus menjadi pengawas bagi diri sendiri. Lagipula ada loh yang Mahamengawasi yaitu Allah SWT. So, jangan main-main deh.

Bila control diri dalam menulis status sudah oke, maka daya tarik Facebook lainnya yang bikin lupa diri adalah Mafia Wars atau permainan sejenis lainnya. Tak udah dihiraukan meskipun banyak teman ‘invite’ kamu. Biasanya nih, sekali coba akan ketagihan untuk mengumpulkan point dan main terus-menerus. Bila kamu sudah terlanjur pernah main, maka jangan dijadikan menu utama setiap buka Facebook. Karena permainana semacam ini melenakan dan bikin kamu lupa untuk mengerjakan tugas sekolah atau bantu ortu di rumah.

Mengakses Facebook, menulis status, main Mafia Wars atau permainan sejenis boleh-boleh saja, asal ada batasnya. Buat kesepakatan dengan diri sendiri. Misalnya, cukup setengah jam saja akses Facebook untuk rubah status atau baca-baca note teman yang bagus. Bahkan kami bisa meng-copypaste note tadi untuk menghindari godaan berlama-lama di Facebook. Trus main-main Mafia Wars dan lain-lain cukup setengah jam juga sekadar menghindari kebosanan karena tugas yang menumpuk, misalnya. Ingat, sebentar saja dan bukan menjadi menu wajib harian kamu.

Dijamin deh, kalo control diri kamu bagus dalam me-menej waktu dalam ber-facebook, maka kamu juga bakal bisa me-menej waktu lainnya untuk mengerjakan hal-hal yang lebih penting untuk dilakukan dalam hidup. Belajar untuk pelajaran esok hari di sekolah, mengerjakan PR, ngaji Qur’an dan Islam secara mendalam, bantu-bantu ortu, aktif organisasi di sekolah, dll. Bila ini yang terjadi, maka Facebook tak lagi jadi kambing hitam ketika kemudhorotan menimpa pemakainya.

So, yuk ber-facebook dengan cerdas tanpa kecanduan! Pasti bisa donk. Harus itu. Siiip dah ^_^ [Ria Fariana/voa-islam.com]

Kecantikanmu jangan hanya sebatas fisik


CANTIK gak melulu urusan penampilan. Otak kudu di-upgrade juga. Bayangkan kalo kamu cantik secara fisik, tapi ternyata isi otak kosong melompong. Hiii…emangnya kamu manekin? Itu tuh, boneka cantik yang suka dipajang di depan toko baju trus diberi baju warna-warni.

Perempuan cantik identik dengan bodoh. Bukan nyindir loh. Tapi fakta di lapangan yang seringkali berbicara demikian. Coba kamu amati deh, siapa-siapa aja yang demen banget ikut lomba Miss atau kontes yang isinya Cuma pamer aurat. Dijamin semuanya gak ada yang berwajah jelek. Body pun sama-sama aduhai yang bisa bikin jantung kaum adam berdetak kencang.

Tapi, pernahkah kamu berpikir tentang kualitas otak mereka yang berlomba kecantikan itu? Hmm…amat sangat patut diragukan tuh. Sebagai contoh konkret aja si Nadine, yang membawa nama Indonesia di ajang Miss Universe. Belum apa-apa bahasa Inggris doi udah kacau beliau. “Indonesia is my beautiful city.” Nah lho, si Nadine bingung tuh bahasa Inggrisnya Negara apaan. Jadilah kalimat yang sangat tulalit ini yang muncul.

Lalu ada Mendoza dari Puerto Rico yang jadi pemenang miss universe. Apalagi yang dinilai kalo bukan kecantikan sedangkan bahasa Inggris aja, di Mendoza yang penuh doza ini gak bias. Belum lagi cita-citanya yang sebatas pingin jadi bintang film. Walah…selama modal Cuma body aja, siapa juga yang gak bias meraih cita-cita jadi bintang film? Beda banget dengan upaya meraih cita-cita jadi ahli nuklir misalnya.

Level dunia aja segini parah kualitas otak kontestannya. Apalagi level local atau bahkan RT. Dijamin deh, kualitas otak peserta cerdas cermat tingkat RT dibanding dengan kontestan Miss Universe, pasti jauh lebih bagus.

...Jangankan manusia, hewan aja punya kok. Yang membedakan manusia dan hewan adalah akalnya. Jangan bingung membedakan antara otak dan akal....

Mind your Brain

Semua manusia punya otak. Jangankan manusia, hewan aja punya kok. Yang membedakan manusia dan hewan adalah akalnya. Jangan bingung membedakan antara otak dan akal. Kalo otak jelas-jelas organ yang ada di dalam batok kepala. Kalo akal itu baru deh ada unsur pembentuknya. Empat unsure itu antara lain fakta, informasi sebelumnya, indera yang kita punya dan yang pasti otak dong.

Contoh sederhananya begini. Ada fakta kontes Miss-miss-an itu. Mata kita sebagai indera penglihat secara jelas melihat bahwa kontes ini emang ajang adu aurat. Informasi sebelumnya berupa pengetahuan bahwa perempuan itu mulia apabila auratnya dilindungi bukan dipamerkan sedemikian rupa. Nah, otak yang nantinya memproses kejadian ini dan memberikan sebuah keputusan berupa akal yang jernih bahwa kontes kecantikan semacam ini sangat merendahkan kedudukan perempuan sendiri.

Jadi perempuan yang dilahirkan dengan wajah cantik dan tubuh aduhai, nggak dosa kok. Yang salah adalah apabila wajah cantik dan tubuh aduhai itu disalahgunakan dengan dipamer-pamerkan di depan khalayak umum. Boleh dipamerkan, tapi nanti di depan suami aja. Akur kan?

...wajah cantik dan tubuh aduhai, nggak dosa kok. Yang salah adalah apabila wajah cantik dan tubuh aduhai itu disalahgunakan dengan dipamer-pamerkan di depan khalayak umum...

Memaksimalkan fungsi otak, adalah jalan untuk menemukan iman. Ini nih yang paling oke pada diri manusia termasuk perempuan. Iman ini yang akan menuntun kamu merasa malu bila umbar aurat. Iman ini yang akan menjadikan kamu perempuan berkualitas lebih, bukan standar aja. Cantik di kepala dan hati ini umurnya everlasting alias abadi. Kalo Cuma cantik fisik, berapa sih usia kulit mampu bertahan dari kerut? Paling juga beberapa tahun ke depan semua kulit manusia akan mengalami penuaan. Masa iya masih ada yang bilang kamu cantik bila kulit sudah penuh gelambir?

Beda banget ketika diri dihargai dengan sesuatu yang jauh lebih hakiki, iman dan potensi diri. Yakin deh, ini semua bakal awet dan dibawa sampai mati. Jadi muslimah cerdas, pati pilihan ini yang bakal kamu ambil. Sudah kuno bila memaknai cantik hanya sebatas fisik. So, menjadi muslimah cantik? Harus itu. Asal bisa menempatkan cantik seperti apa yang harus diraih dan diupayakan. Selamat menjadi cantik hari ini ^_^ [riafariana/voa-islam.com]

Cewek Gibol harus nyadar


By: Ria Fariana

Bukannya latah karena ada pagelaran spektakuler World Cup 2010 di Afrika Selatan, kita jadi ikut-ikutan ngebahas tentang sepakbola. Cuma emang baru kali ini tentang cewek gibol dibahas dan diulas oleh cewek sendiri. Biasanya kan ditulis oleh para cowok, dan mereka cuma sebagai pengamat aja karena mereka sendiri gak pernah jadi cewek kan? Jadi baca terus deh, pasti asyik.

Asli, penggemar berat olahraga sepakbola sekarang ini bukan dominasi kaum Adam aja. Cewek juga sudah banyak banget yang pada suka. Bahkan seakan ada peraturan tak tertulis kalo paham ngobrolin tentang sepakbola, gengsi para cewek terutama ABG bakal naik. Why? Itu karena kalo diajak ngomong sama cowok-cowok sebayanya tentang sepakbola jadi nyambung. Pembicaraan pun jadi asyik dan bikin temenan juga tambah sip.

Fenomena ini bukan cuma ada di World Cup 2010, sejak World Cup 1994, 1998 dan 2002 dan 2006 juga sudah banyak cewek yang demen nonton sepakbola. Soalnya ini pengalaman penulis sendiri hehe. Masalahnya, bagaimana bisa cewek hobi nonton bola yang notabene kesukaan para cowok itu? Hmm...banyak banget faktornya, simak paparan di bawah ini yee.

Alasan cewek suka Bola

Banyak banget alasan cewek suka nonton bola. Salah satu jawaban yang masuk akal dan klise adalah karena pemainnya cakep-cakep hehe. Jawaban jujur ini berasal dari pengakuan banyak teman yang pernah saya tanya tentang hobinya nonton bola. Saking demennya mereka bisa sampai hafal formasi asli di negaranya masing-masing sebelum berangkat ke World Cup. Misalnya pemain ini berasal dari klub AC Milan, Intermilan, Parma, Juventus, dll. Nggak berhenti di situ, musim pertandingan juga bakal diikuti meski hingga larut malam.

…Permainan semacam world cup ini sengaja dibuat untuk memalingkan penduduk dunia dari permasalahan kehidupan yang sebenarnya…

Selain karena tampang keren, ada juga yang suka nonton bola karena ketularan sodara. Kayak saya dulu suka banget nonton bola karena bapak, kakek, dan kedua sodara laki-laki pada gibol juga. Padahal awalnya sebel banget sama olahraga satu ini. Gimana nggak kalo bola satu direbutin sama segitu banyak orang. Kayak kurang kerjaan aja. Trus yang paling bikin keki, bola sudah ada dekat dengan tiang gawang, eh...tiba-tiba ada pemain lain nyelonong dan menendang tuh bola sehingga gak jadi gol. Grmffff...bikin sebel banget pokoknya. Tapi karena rumah nggak pernah sepi dari tontonan serupa, lama-lama jadi bisa ngerti dan ikutan suka. Begitu ceritanya. Dan ini diamini oleh beberapa teman yang punya history serupa dengan saya. Witing trisno jalaran ora ono sing liyo. Awal suka karena gak ada chanel lain yang bisa ditonton karena TV sudah dijajah sama kaum Adam di rumah.

Hobi bola ini masih terbatas nonton TV aja sambil ditemani cemilan kacang goreng yang asyik. Maksudnya yang asyik cemilannya, bukan nontonnya. Tapi ada juga beberapa cewek yang hobi nonton bola sampai datang ke stadionnya loh. Kayak yang dialami sama teman saya yang sebut saja namanya Santi. Awalnya saya nggak percaya banget doi mau bela-belain datang ke stadion Gelora 10 November di Tambaksari Surabaya untuk mendukung Persebaya. Soalnya meski suka bola, banyak cewek anti nonton sepakbola negeri sendiri. Selain gak bisa dikecengin, juga males banget nonton permainan yang kurang profesional. Nggak seru. Selain juga supporter bonek-nya bikin ngeri.

Tapi temen cewek satu ini beda. Doi selalu bela-belain datang ke stadion untuk nonton siaran LIVE. Pokoknya doi nggak pernah ketinggalan satu pertandingan pun. Usut punya usut ternyata doi lagi pacaran sama kiper Persebaya saat itu. Huu...coba kalo gak ada yang dikecengin, pasti mending tidur di rumah.

Tapi nggak semua cewek bertipe kayak Santi. Ada juga yang seneng bola karena dasarnya emang suka nonton aja. Sebut aja cewek yang satu ini Eli. Gibol doi patut diacungi jempol. Bukan aja suka nonton bola, tapi cewek satu ini bisa menyebutkan dengan detil pemain-pemain sebuah tim yang berlaga plus latar belakang dan semua yang berkaitan dengan si bola bundar. Doi bahkan bela-belain selalu mengikuti berita tentang dunia sepak bola dengan membeli secara rutin tabloid-tabloid bola. Tidak itu saja, majalah tentang sepak bola yang kovernya sering memajang salah satu sosok cakep dari tim Itali, Inggris atau pun Prancis, selalu dibelinya. Padahal harga tuh majalah setara dengan dua minggu uang saku saya! Tapi asyiknya, si Eli ini gibolnya termasuk tipe yang cool alias nggak ganjen sebagaimana gibol cewek lain yang cuma buat sok-sokan. Dan yang asyik lagi, doi bukan tipe cewek pelit kalo majalah bola miliknya saya pinjam hehe.

Emang kenapa kalo cewek gibol?

Alasan kenapa cewek jadi gibol udah dibahas di atas. Trus, emang kenapa kalo cewek jadi gibol? Sebetulnya nggak kenapa-napa sih. Karena hukum asal benda dalam hal ini si bola bundar adalah mubah, kecuali ada dalil yang mengharamkan. Sementara perbuatan hukum asalnya adalah terikat dengan hukum syara’. Toh, aktivitas nonton bola via TV emang mubah kok. Selama yang hukumnya mubah ini nggak mengalahkan yang hukumnya sunnah apalagi wajib, semisal membantu ortu, belajar, shalat dan ngaji. Kalo gara-gara gibol jadi kesiangan shalat subuh dan malas disuruh ortu untuk beli garam di warung sebelah misalnya, ini yang berabe. Bukan hanya nonton bola, kegiatan apa pun itu kalo memalingkan kamu dari sesuatu yang sunnah dan wajib maka bisa berakibat dosa.

…Kalo gara-gara gibol jadi kesiangan shalat subuh dan malas disuruh ortu, ini yang berabe, bisa berakibat dosa…

Jadi, meskipun kamu kesengsem berat sama wajah cute-nya David Beckham plus tendangannya yang oke punya, jangan sampe lupa daratan. Seberapa serunya pertandingan bola yang sedang berlangsung, tetap kudu ingat melakukan kewajiban. Toh biar pun kamu tergila-gila sama para pemain cakep itu, mereka juga gak bakal memberi kamu perhatian lebih. Jadi, kagum secara wajar boleh aja asal jangan sampe kelewatan.

Banyak banget tuh cewek terutama ABG (ibu-ibu ada gak yah?) yang ngefans sama pemain sepak bola dari Italia dan Inggris sampe kebawa mimpi. Gimana enggak mimpi kalo ternyata dinding kamar penuh wajah-wajah cute mereka. Padahal kalo dipiki-piki, mereka kan gak kenal sama kamu. Trus ngapain juga kamu harus hapal segala sesuatu tentang mereka? Kecuali sebatas agar nggak kuper ketika teman-teman ngobrolin tentang mereka sih it’s okay. Tapi apa perlu sih sampe ada poster mereka mejeng di dalam kamar? Sodara bukan, tetangga juga enggak, boro-boro jadi suami, Na’udzubillah. Kecuali kalo doi mau insaf dan ganti profesi dari pemain bola jadi pengemban ideologi Islam, itu baru bisa dipertimbangkan. Kalo enggak, cuma menuh-menuhin tembok aja.

Cewek gibol kudu cerdas

Apa maksudnya neh? Meski kamu termasuk cewek yang gila bola tapi kamu kudu cerdas. Soalnya banyak banget cewek-cewek di luar sana yang nggak cerdas sama sekali dan cuma menjadi sebatas cewek gibol yang STD alias Standard. Kamu jangan mau jadi yang tipe ini. Siapa pun kamu adanya dengan hobi apa pun, kamu kudu jadi cewek yang beda.

Trus, gimana caranya jadi cewek gibol yang beda?

Pertama, kamu kudu kritis. Pernah nggak kamu berpikir ada apa di balik ajang spektakuler yang digelar tiap empat tahunan itu? Mengapa gaungnya bisa mendunia sedahsyat itu? Apa sih tujuan sebenarnya dari moment seperti itu? Dan berbagai pertanyaan lain yang menunjukkan kamu sebagai cewek gibol yang beda.

Permainan semacam world cup ini sengaja dibuat untuk memalingkan penduduk dunia dari permasalahan kehidupan yang sebenarnya. Contoh kecil saja; penduduk Argentina yang tertimpa krisis ekonomi berkepanjangan dan berimbas pada pengangguran, kemiskinan yang parah, kelaparan dll merasa sedikit ‘terobati’ ketika menyaksikan tim nasional mereka berlaga di ajang bergengsi ini. Mereka jadi ‘lupa’ pada perutnya yang keroncongan. Tapi apakah mereka akan kenyang dengan suguhan tim nasionalnya berlaga? Tentu tidak.

Imbas yang lain adalah bagi kehidupan kaum muslimin. Lihatlah betapa seringnya tim-tim dari negeri berpenduduk mayoritas Islam menjadi pecundang di ajang world cup. Masih ingat nggak di pagelaran World Cup lalu-lalu ketika Arab Saudi dipermalukan Jerman dengan 6-0? Secara tidak langsung hal ini mempengaruhi psikologis penduduk dunia khususnya umat Islam. Mereka menjadi inferior alias minder mempunyai tim yang nggak bisa dibanggakan. Hingga ada sebuah joke yang sempat terdengar ‘jangan-jangan bolanya dilumuri minyak babi biar pemain-pemain Arab nggak ada yang mau nendang’. Ironis sekali!

…kamu kudu nyadar. Sadar bahwa semua permainan ini adalah skenario global untuk melalaikan kaum muslimin dari penindasan kapitalisme sekuler…

Yang kedua, kamu kudu nyadar. Sadar bahwa semua permainan ini adalah skenario global untuk melalaikan kaum muslimin dari penindasan kapitalisme sekuler. Sport hanya salah satu dari agenda besar barat yang terdiri dari 3S untuk membuat pemuda muslim lalai dari kewajibannya. S yang lain adalah Song dan Sex. Untuk tema ini lain kali aja insya Allah kita bahas.

Sepak bola juga hanya salah satu dari sekian banyak cabang olahraga yang merupakan sasaran empuk untuk menguras duit dan energi kaum muslimin. Bayangkan berapa banyak waktu dan dana yang terkuras untuk membiayai sepak bola. PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) tempo hari mendapat kucuran dana sekitar 1 milyar dari pemerintah dalam hal ini departemen yang membawahi olahraga. Itu aja pihak PSSI masih merasa kurang. Bandingkan dengan perputaran uang dalam ajang segede World Cup. Nggak kehitung lagi dah!

Belum lagi transfer gaya hidup para pemain sepak bola itu yang cenderung hedonis. Yang namanya idola, bukan nggak mungkin gaya hidup mereka akan ditiru para fansnya. Itu masih dari segi pemainnya. Kalo kita mau sedikit lebih jeli, media pun juga menyoroti gaya para pendukung tiap kesebelasan itu. Baik cewek atau pun yang cowok semua berdandan serba kebablasan. Muka dan rambut dicat bendera ala nasionalisme masing-masing negara, pakaiannya pun serba terbuka kalo nggak dibilang telanjang. Inilah celah bagus untuk merusak generasi muda, terus-menerus disuguhkan menjadi sebuah tontonan dan hiburan.

Ternyata urusan world cup bisa panjang bahasannya. Itu kalo kamu mau berpikir sedikit kritis. Ini juga sebagai upaya menyadarkan teman-teman kamu yang mungkin gibolnya udah nggak ketulungan lagi. Gibol secara wajar sih boleh aja, asal itu tadi, kewajiban ngaji Islam nggak boleh terlantar gara-gara world cup. Pokoknya, selesaikan dulu semua urusan yang penting dan urgent kemudian nonton world cup kalo waktu bener-bener sudah longgar. Toh, ini semua hanya permainan kan? Ingatlah kata Rasulullah bahwa permainan bisa melalaikan.

Jadi meskipun kamu cewek gibol jangan mau jadi tipe yang biasa-biasa aja. Tapi gibol yang bisa menganalisis dengan cerdas ada apa di balik setiap peristiwa. Sehingga, gibol kamu punya tetap punya bobot untuk turut andil dalam penyadaran umat, sekecil apa pun itu. Cewek gibol yang syar’i? Asyik aja lagee! Tetap semangat. [voa-islam.com]

Cantik tak harus putih


BANYAK banget remaja yang salah mengira bahwa cantik itu identik dengan putih. Karena asumsi inilah akhirnya membuat para remaja terutama yang cewek tergila-gila dengan perawatan kulit. Berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk pergi ke salon dan spa sekadar agar kulit terlihat lebih putih. Berapa banyak juga produk lotion yang dilumurkan ke tubuh agar mendapatkan kulit putih ideal

Siapakah yang diuntungkan dari asumsi salah semacam ini? Negara produsen produk kecantikan jawabnya. Mereka berlomba-lomba membuat produk dan diberi merk bahkan dengan embel-embel khusus untuk daerah tropis agar laris. Remaja pun merasa malu bila belum pernah memakainya. Jadilah, remaja-remaja putri itu lebih mementingkan penampilan wajah dan fisik daripada akal dan akhlak. Mereka lebih fasih membicarakan merk produk kecantikan daripada pelajaran. Mereka lebih peduli artis icon produk kosmetik berapa kali ganti sepatu daripada saudara di Palestina yang diberondong peluru. Inilah gambaran memprihatinkan sebagai akibat dari gencarnya kapitalisme menjajah negeri.

Kembali ke topik cantik dan putih. Indonesia adalah negara tropis. Karena letak geografis dan gen leluhur bangsa, maka mayoritas orang Indonesa dikaruniai kulit berwarna sawo matang atau agak kecoklatan. Upaya untuk memutihkan kulit sesungguhnya tak membawa manfaat apa pun. Malah yang terjadi adalah sebaliknya. Kamu akan terlihat aneh bila nekad memakai produk pemutih kulit ini. Wajah kamu terlihat putih tapi lengan tetap sawo matang.

…Kamu akan terlihat aneh bila nekad memakai produk pemutih kulit ini. Wajah kamu terlihat putih tapi lengan tetap sawo matang…

Ada sebuah kejadian menggelikan ketika keponakan melulurkan sabun mandi ke seluruh tubuh tapi sengaja tidak serius ketika membilas dengan air. Walhasil, seluruh tubuhnya masih terlihat bercak putih tanda si sabun masih lengket. Usut punya usut ternyata gadis kecil berusia 5 tahun ini ingin punya kulit putih seperti yang sering ditayangkan di iklan sabun TV. Ironis! Bagaimana otak seorang bocah kecil mudah teracuni oleh tayangan iklan produk pemutih wajah dan badan.

Bayangkan apabila gadis kecil tersebut mempunyai asumsi salah ini berlanjut hingga ia remaja dan dewasa. Tak heran bila bangsa ini tidak semakin maju tapi malah berjalan mundur ketika generasi mudanya mendewakan fisik semata. Hal ini tak bisa dibiarkan. Harus ada pembenahan persepsi bahwa cantik itu tidak ditentukan oleh warna kulit.

Kecantikan itu adalah apa yang terpancar dari kepribadian dan keimananmu. Kamu disebut cantik ketika akalmu dimanfaatkan secara maksimal untuk mengenal Rabb-nya dan mengetahui posisi diri sebagai hamba. Dari sinilah akan terpancar pesonamu yang terwujud dalam akhlak mulia. Allah berfirman bahwa yang membedakan manusia satu dengan lainnya adalah takwa.

Takwa ini adalah kunci cantik. Bukan warna kulit, pun bukan putihnya wajah. Apa gunanya wajah putih ketika diajak ngobrol malah tulalit. Apa gunanya cantik wajah tapi mata selalu digunakan untuk jelatatan, dan mulut selalu untuk berkata jorok dan maksiat. Tak akan ada orang suka meskipun cantiknya melebihi bintang sinetron. Bahkan sebaliknya, banyak sekali orang yang tidak putih kulitnya malah punya teman banyak yang baik dan setia. Itu karena orang menghargai dirinya sebagai apa adanya dia, bukan hanya kulit luar yang bersifat sementara.

…Takwa ini adalah kunci cantik. Bukan warna kulit, pun bukan putihnya wajah. Apa gunanya wajah putih ketika diajak ngobrol malah tulalit…

Cantik seperti inilah yang langka. Inner beauty, kata orang bule. Kecantikan yang terpancar dari dalam hasil dari tempaan iman dan takwa seseorang. Jadi, jangan terkecoh oleh anggapan salah dan promo iklan bahwa cantik itu putih. Buktikan bahwa semua perempuan bisa cantik, tak peduli warna kulit. Karena sungguh, pesona kecantikan imanmu akan jauh lebih bermakna daripada warna kulit yang habis dimakan usia.

Tetaplah cantik apa pun warna kulitmu ya ^_^ [Ria Fariana/voa-islam.com]

Setelah Putus Pacaran

Stop Press!! Artikel ini khusus buat mereka yang berpacaran dan pernah punya pacar. Waduh, gimana dong nasib mereka yang hidupnya lurus-lurus aja alias nggak pernah pacaran? Masa’ nggak boleh ikutan baca? Hehe... tentu boleh dong. Siapa tahu ada orang-orang di sekeliling kamu yang membutuhkan, padahal kamu masih belum punya pengalaman, kamu tinggal kasihkan artikel STUDIA edisi kali ini. Asyik kan?

Masa pacaran, siapa sih yang nggak panas-dingin bila mengenangnya? Panas-dingin karena teringat indahnya. Tapi bisa juga panas-dingin karena takut dosanya. Yang pasti sih, saya yakin kamu udah pada insaf kalo pacaran tuh cuma ajang menumpuk dosa akibat baku syahwat yang melanggar syariat. Kalo masih belum yakin juga, kamu bisa baca-baca lagi file STUDIA yang lalu-lalu biar ingatanmu fresh lagi.

Nah, udah ingat lagi kan? Kamu yang dulu memutuskan si dia karena takut dosa. Kamu yang memutuskan kekasih karena insaf. Kamu yang tak mau lagi mempunyai ikatan nggak sah. Kamu yang udah nyadar dan nggak pingin mengulangi lagi. Entah kenapa tiba-tiba aja bayangan si dia nongol lagi dalam benakmu.
Tiba-tiba aja nggak sengaja ketemu di angkot. Atau di tempat les bahasa Inggris. Atau bisa juga karena kamu yang lagi beres-beres kamar menemukan satu lembar foto doi dalam pose yang bikin kamu tersepona. Tapak kenangan dirinya ternyata belum hilang sepenuhnya dari benakmu. Duh... gimana menyikapi rasa ini?
Padahal kamu tahu bahwa jalinan cinta itu tak mungkin lagi untuk diulang. Ia hanya penggalan masa lalu yang kudu dikubur dalam-dalam. Terus, gimana dong?

Ketika si dia hadir kembali
Setelah beberapa saat mampu melupakan bayangan dirinya, tak disangka tak diduga tiba-tiba si dia hadir lagi dalam kehidupanmu. Kehadirannya pun mampu menghadirkan suasana haru-biru yang dulu pernah singgah di hatimu. Meski kalian sudah tak ada lagi ikatan, kenangan lama itu begitu indah untuk dilewatkan begitu saja. Bagaimana pun, kamu masih menyimpan direktori memori itu dalam salah satu sudut hati. Ehem...

Tenang aja, yang namanya perasaan itu bersifat ghoib kok, nggak terlihat. Karena nggak terlihat maka tak bisa pula dikenai hukum. Tapi meskipun bebas dari hukum, bukan berarti kamu bisa bebas juga membiarkannya tanpa batas. Catet ye!

Bukanlah ada Yang Maha Mengetahui baik yang ghoib dan yang nyata? Ya, meski tak ada satu pun teman yang memergoki, tapi kamu pantas malu dong sama Dia. Ia Yang Maha Memantau kondisi hatimu. Lagi pula, kalo yang namanya rasa, meski nggak terlihat tapi ia akan membekas pada perbuatan. Jadi, bisa aja kamu tanpa sadar menyebut namanya. Atau setengah pingsan berusaha lewat depan kelasnya hanya demi bisa melihat sosoknya meski sekilas. Duh... sampe sebegitunya ternyata kalo perasaan dimanjakan.

Padahal sedari awal ketika kamu mengambil keputusan untuk mem-PHK dia, kamu sudah sadar sesadar-sadarnya bahwa pacaran adalah salah satu jalan syaitan untuk mengajak maksiat. Karena kamu nggak mau jadi teman syaitan, maka kamu pun nggak mau lagi pacaran. So, sebetulnya kamu itu udah paham kok bagaimana menyikapi pacaran. Cuma yang kamu agak nggak paham adalah menyikapi kenangan yang kadangkala timbul tenggelam kayak tanpa dosa, gitu.
Apalagi biasanya mereka yang sebelumnya menjadi aktivis pacaran, biasanya rentan banget untuk diajak balik oleh sang mantan. Memang sih nggak semua, cuma jaga-jaga aja kalo ternyata kamu ternyata adalah tipe yang lemah ini. Waspadalah!

Hati-hati musang berbulu domba
Jangan terjebak dengan bujuk rayu dunia. Entah sang mantan ngajak balik, or ada ikhwan berbulu domba yang ngajakin kamu pacaran dengan bingkai Islam. Mulutnya manisnya ngajak ta’aruf tapi aktivitasnya nggak beda jauh dengan pacaran. Eh, ternyata karena si ceweknya lemah iman (tentu cowoknya juga dong), mau aja ia nginap berhari-hari di rumah si ikhwan tanpa hajat alias keperluan syar’i yang jelas, misalnya.

Meskipun sudah jadi calon suami dan bawa teman sekampung, kamu masih belum boleh tuh nginap di rumahnya. Apalagi pake acara pelesir ke tempat-tempat rekerasi. Duh duh... di mana pemahaman kamu tentang hukum syara’ selama ini? Or jangan-jangan kamu bolos ya waktu pembahasan topik pergaulan dalam Islam? Atau.. memang nggak paham?

Kamu kudu hati-hati, saat ini banyak ikhwan jadi-jadian kayak gini. So, biar kamu nggak terjerumus lagi, niatkan hijrahmu ini karena Allah saja, bukan yang lain. Lalu berkumpullah dengan orang-orang sholeh dalam hal ini akhwat-akhwat sholihah yang menjaga diri dan pergaulan. Dengan berkumpul bersama mereka, akan ada orang yang akan menjaga dan menasihati kamu bila akan salah langkah.

Kalo sudah sampe pada tataran ini, kamu kudu introspeksi. Apa yang salah pada dirimu? Kenapa bayangan doi masih menari-nari? Kenapa kenangan itu sulit dihapus dari hati?

Pertama, mungkin saja kamu lagi krisis hati yang bermula dari kekurangdekatan kamu pada Yang Maha Membolak-balik hati. Kamu masih punya sekian banyak waktu luang sehingga terbuka peluang untuk bengong. Padahal yang namanya syaitan itu paling demen masuk pada momen ini. Panjang angan-angan dengan banyak melamun.
Kedua, ganti ‘kacamata’ yang kamu pake. Si mantan boleh jadi adalah seseorang yang terlihat begitu perfect di matamu. Udah cakep, tajir, ramah, baik hati, suka menolong, rajin menabung, patuh pada orang tua, rajin sholat lagi. Bagi yang belum paham hukum pacaran, cowok tipe ini adalah all girls ever want.

Jadi bisa aja kamu begitu dengan berdarah-darah saat memutuskannya. Hehehe..biar hiperbolis gitu kedengarannya. Maksudnya, kamu sebetulnya masih sayang sama dia dan nggak ingin pisah darinya. Tapi kesadaranmu terhadap keterikatan pada hukum Allah Swt., bahwa pacaran adalah aktivitas mendekati zina, jauh lebih kamu pilih daripada kelembutan si dia.

Ketiga, bisa jadi kamu ternyata nggak begitu paham konsep jodoh. Kamu mati-matian masih berat sama dirinya meski udah putus. Ada terbersit rasa takut dalam dirimu gimana kalo ternyata si mantan nikah sama cewek lain.

Itu artinya, kamu belum benar-benar putus dan mengikhlaskan dirinya pergi. Jadinya, kamu masih ada harap-harap si dia akan datang dan ngajakin kamu merit. Padahal harapan itu jauh panggang daripada api alias sulit terwujud. Lha wong ternyata pacarmu saat ini malah asyik berlumur maksiat dengan punya cewek baru setelah kamu putus.

Iman adakalanya bertambah dan berkurang. Ketika imanmu sedang tinggi-tingginya, kamu begitu pasrah dan ikhlas melepaskannya. Tapi ketika iman sedang down, kamu merasa begitu sayang dan ingin kembali padanya. Itu sebabnya ada resep sederhana: iman bertambah jika taat kepada aturan Islam, iman berkurang tentu jika kita maksiat kepada Allah dan RasulNya. Pilih mana ayo? Orang cerdas, pilih taat syariatNya dong ya. Betul ndak?

Yakinlah pada takdirNya
Yakin pada qadha alias keputusan Allah yang ditetapkan atas diri kita, adalah kuncinya. Selama kita telah berjalan pada rambu-rambu syariatNya, maka selebihnya bertawakallah. Allah hendak menguji imanmu, apakah kamu lebih mencintai sang mantan pacar ataukah taat pada aturanNya? Kamu nggak bisa dong mengaku-aku beriman padahal belum jelas siapa saja yang bakal sanggup melewati pintu-pintu ujian itu. So. ati-ati deh.

Ada sebuah peristiwa, sepasang remaja yang saling mencinta harus rela memutuskan ikatan tanpa status yang mereka punya alias pacaran. Kedua pasang remaja ini adalah pasangan idola di masa SMA. Beberapa tahun kemudian, yang akhwat alias remaja putri tadi memutuskan untuk menerima khitbahan seorang ikhwan. Entah dengan alasan apa, ia memutuskan tidak mau melihat siapa calon suaminya hingga akad tiba. Ia hanya percaya saja pada pembina ngajinya tentang kualitas nih ikhwan. Sumpah!

Dan tepat ketika akad nikah tiba, saat ia harus mencium tangan suaminya, ia mendongak dan jatuh pingsan. Apakah suaminya bewajah seperti beast hingga ia shock? Ternyata sebaliknya. Suami yang kini telah sah menjadi pasangan jiwanya adalah seseorang yang begitu dalam terpatri di lubuk hatinya. Kekasih yang diputuskannya karena Allah dan saat ini Allah pula yang menyatukan sang kekasih dengan dirinya lagi.

Tapi kamu jangan buru-buru gembira dulu. Wah, asyik, aku putusin aja sang pacar sekarang. Beberapa tahun lagi ia pasti akan datang meminang dan menikahiku. Waduh, kalo gitu caranya, kamu taat syariat tapi dengan pamrih tuh. Namanya nggak ikhlas, Non. Padahal sebuah amal nggak bakal diterima bila bukan semata-mata hanya mengharap ridhoNya saja. Jadi, pamrih yang dibolehkan cuma ridho Allah, lain tidak.

Karena ada juga sebuah kisah lain yang tidak sama dengan yang di atas. Nih akhwat cakep banget dan di masa jahiliyah sebelum paham Islam dengan baik dan benar, pacar-pacarnya selalu cakep dan kaya. Setelah ngaji, ia pun memPHK pacarnya dan tak mau lagi berhubungan dengan mereka.

Dua tahun mengaji, ada ikhwan datang meminangnya. Kondisi ikhwan ini sangat jauh dari tipe laki-laki yang pernah menjadi pacar-pacarnya. Secara fisik, nih ikhwan lebih pendek dari si gadis. Apalagi kakinya juga cacat sebelah. Secara harta, ia pun masih awal dalam pekerjaannya. Tapi apa yang dilakukan oleh si gadis? Ia menerima ikhwan ini karena satu hal, kesholehannya.

Kemungkinan ini sangat bisa terjadi. Mungkin secara fisik dan harta, jodohmu tak seindah yang pernah menjadi pacar-pacarmu. Tapi satu hal, bila kesholihan seseorang yang kamu jadikan patokan, maka insya Allah akan barokah dunia akhirat. Dan yang utama, niat atau motivasi kamu dalam beramal sangat menentukan kualitas dirimu ke depan.

“Aku baik-baik saja”
Yakinkan dirimu dengan prinsip: “Aku akan baik-baik saja” (meski tanpa si doi). Jangan terlalu memanjakan perasaan. Kenangan itu hadir kalo kamu emang berusaha menghadirkannya. Emang sih, kenangan itu nggak mungkin bisa terhapus dari memori hatimu. Bahkan, ia merupakan bagian dari proses pendewasaan kamu untuk melangkah ke masa depan. Tapi, itu bukan alasan untuk kemudian berlarut-larut dalam kenangan yang tak berkesudahan. Sebaliknya, tanamkan dalam diri bahwa kamu akan menjadi seseorang yang lebih baik dengan menanggalkan masa lalu yang berlumur dosa akibat menjadi aktivis pacaran.

Jangan mengulang kesalahan yang sama ketika kamu sudah meng-azzam-kan diri alias bertekad untuk berubah. Kalo ternyata sikap dan kelakuan kamu masih sama, bukan nama kamu saja yang bakal jelek. Tapi citra muslimah berjilbab dan anak ngaji pun akan tercoreng. Ibarat susu sebelanga, jangan sampai kamu menjadi nila setitik itu.

Pancangkan tekad kuat bahwa kamu nggak akan pernah tergoda lagi untuk ngulangin pacaran. Kamu nggak akan terbuai oleh embel-embel Islam padahal sejatinya adalah maksiat. Dan supaya nggak terjatuh ke lubang yang sama, kamu kudu rajin mencari ilmu tentang batasan pergaulan dalam Islam. Jangan menjadi anak ngaji hanya karena pingin dapat jodoh dari sana. Sesungguhnya setiap amalan dinilai Allah berawal dari niatnya.

Yakinlah kamu akan baik-baik saja kok meski tanpa sang mantan or si ikhwan jadi-jadian. Jodohmu sudah tertulis sejak mula ruhmu ditiupkan. Bahkan Allah telah menjanjikan bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik dan perempuan yang baik juga untuk laki-laki yang baik. Begitu sebaliknya (coba deh kamu buka al-Quran surat an-Nuur ayat 26). Kamu nggak usah resah dan gelisah masalah jodoh. Toh kita hidup bukan cuma ngurusi masalah satu ini kan? Selama kamu maksimal beikhtiyar dengan jalan yang baik dan benar, jodoh yang datang nanti juga nggak jauh dari kualitasmu. Yakin aja.[ria: riafariana@yahoo.com]

Narkoba; Jangan Coba-Coba!

Operasi narkoba yang dilancarkan Polda Metro Jaya antara 9-23 Februari 2002 berhasil menangkap 155 tersangka dengan barang bukti 56.060 gram ganja, 1.914,25 gram heroin, 3.489 butir ekstasi, 61,9 gram sabu-sabu dan 352 butir obat golongan IV. Demikian dikatakan Kepala Satuan Reserse Narkotika Polda Metro Jaya AKBP Carlo B Tewu (Warta Kota, 26 Februari 2002)

Hmm... ini adalah operasi yang kesekian kalinya dilakukan aparat kepolisian sejak beberapa tahun yang lalu. Tapi anehnya, semakin banyak operasi, kok malah kian banyak aja yang make. Artinya kayak nggak ada abisnya, gitu lho. Narkoba tetap merajalela. Korbannya pun udah nggak keitung jumlahnya. Karena sampe sekarang aja kasusnya ibarat kasus “abadi”. Nggak kelar-kelar. Udah gitu membawa petaka lagi. Wuah, narkoba bener-bener bikin repot semua orang.

Oya, ada yang belum gaul dengan istilah narkoba nggak? Oke deh, kita coba jelasin lagi, semoga yang udah tahu kagak bete apalagi sewot. Sobat muda, narkoba adalah singkatan dari Narkotika, Alkohol, dan Obat-obatan Berbahaya. Selain itu ada istilah lain yang mempunyai makna sama, yaitu: NAZA (Narkotika dan Zat Adiktif), atau NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif). Istilah NAPZA lebih tepat karena di dalam singkatan tersebut terdapat psikotropika, obat yang biasanya digunakan untuk gangguan kesehatan jiwa.

Narkoba pada awalnya adalah sejenis obat-obatan tertentu yang digunakan oleh dunia kedokteran. Biasanya untuk terapi penyakit, misalnya untuk menghilangkan rasa nyeri. Namun pada perkembangannya obat-obatan itu disalahgunakan (abuse) sehingga menimbulkan ketergantungan (adiksi).

Sobat muda muslim, bicara soal narkoba adalah bicara tentang nasib masa depan anak muda negeri ini. Gimana nggak, lebih dari 80 persen korbannya adalah remaja. Khususnya adalah remaja muslim. Nah lho. Gaswat bener kan? Sebab kalo dibiarin aja bisa tambah ruwet dan berbelit-belit. Tapi inilah kenyataan yang kudu kita hadapi bersama. Dan tentunya kenyataan yang begitu pahit. Karena, banyak teman remaja yang “ahlul boat” kayaknya udah rada sulit untuk bisa dijadikan sebagai pewaris kehidupan masa depan. Tragisnya lagi, nggak sedikit yang akhirnya keburu “pensiun” dari dunia ini setelah mereka OD (over dosis) mengkonsumsi boat.

Kenapa jadi junkies?

Sebut saja Rudi, cowok kutilang (kurus tinggi langsing) ini mengaku sebagai junkies gara-gara frustasi masalah keluarga. Nggak tahan, akhirnya nyobain make narkoba. Itu pun setelah diajak teman sekelasnya. Sejak saat itu, Rudi selalu pake karena emang ketagihan. Rudi, mungkin tipe anak laki yang nggak bisa menghadapi kenyataan hidup. Ia gamang melihat kehidupan ortunya nggak harmonis, akhirnya milih menggunakan narkoba untuk menghilang-kan kekecewaannya. Meski akhirnya bikin kecewa semua orang, karena jadi junkies.

Bagi orang model begini, apapun masalah yang dihadapinya seringkali lari ke boat (drugs). Karena emang boleh dibilang punya “kepribadian” drugs (drugs personality), yaitu orang yang gampang putus asa, nggak tahan konflik (misalnya, nggak berani bilang “nggak” terhadap teman, atau nggak bisa keluar dari masalah), terus nggak tahan stres, dan semua yang bersumber pada kelemah-an dirinya. Pendek kata, mereka gampang frus-trasi. Walah? Hati-hati.

Sobat muda muslim, pengaruh teman sebaya emang amat besar. Itu sebabnya banyak juga yang make boat gara-gara ditawari temannya yang kebetulan badung bin nakal. Celakanya, ada juga tipe anak yang nggak bisa bilang “nggak” sama temennya itu. Jadi deh langsung nyetel alias ngikutin kemauan sang teman. Wuah, ini bahaya banget. Dan terus terang aja, model teman kamu yang seperti ini amat mudah dijumpai, karena emang banyak.

Sebetulnya, dari banyak kasus yang sering dijadiin alasan bahwa dirinya jadi junkies adalah alasan yang sepele banget. Cuma, karena kebetulan temen kita yang labil ini salah gaul, ditambah keimanannya “blong”, maka nggak heran kalo akhirnya jadi nyandu boat. Padahal, bahaya bagi dirinya sedang mengintai. Jangan sampe deh.

Sekali coba “error”

Kamu memang pantas takut dan jangan bergaul dengan narkoba. Karena seperti kata iklan, “sekali dicoba, narkoba langsung disuka”. Narkoba mampu membuatmu ketagihan alias sakaw dan menjadikanmu seorang junkies (pecandu) yang menghamba luar dalam kepada narkoba. Sekalipun kamu harus tersiksa saat sakauw, tapi kamu tetap membutuhkannya, meski harus merogoh kocek dalam-dalam. Hih, syerem!

Selain menguras uang, narkoba adalah zat yang amat beracun bagi tubuhmu. Banyak efek berbahaya yang terdapat pada narkoba, diantaranya;

  1. Secara umum, peng-guna narkoba akan menjadi kehilangan kepercayaan diri, lemah, dan bloon.
  2. Para pengguna ekstasi dan kokain akan mengalami perubahan tingkah laku yang menjurus ke arah paranoid dan antisosial sebagai akibat rusaknya sel-sel syaraf otak. Akibatnya mereka dapat dengan mudah untuk melakukan tindak kriminal.
  3. Penggunaan zat adiktif juga mengakibatkan gangguan konsentrasi belajar.
  4. Heroin atau putauw juga dapat menyebabkan kematian. Hal ini dikarenakan narkotik dapat menekan pusat pernafasan yang terletak di batang otak (depresi pusat pernafasan), pembengkakan (edema) paru-paru secara akut atau karena terjadi reaksi yang fatal (syok-anafilaktik). Heroin juga memiliki daya ketagihan yang tinggi (adiksi) sehingga si pengguna harus menambah dosis agar mereka memperoleh euphoria yang diharapkan.
  5. Selain memberikan good tripping (rasa menyenangkan), ekstasi juga memberikan bad tripping. Seorang pengguna yang sedang tripping bisa mengalami halusinasi untuk membunuh orang, atau bunuh diri seperti meloncat dari gedung tingkat tinggi karena terhalusinasi ada kolam renang di bawahnya.
  6. Ekstasi dapat menyem-pitkan pembuluh darah perifer (vasocinsyrici perifer), membuat peng-guna merasa kedinginan, kesemutan; untuk itu ia harus menggoyangkan tubuhnya (tripping), juga karena vasoconstricsi tersebut si pengguna tidak mungkin bisa ereksi.
  7. Di luar negeri tingkat kecelakaan lalu lintas akibat mengkonsumsi ekstasi ternyata telah meningkat.
  8. Cimeng bisa bikin paru-paru jebol. Berbagai penyakit paru-paru, dari yang ringan sampe yang berat, seperti asthma, bronkhitis kronis, dan kanker paru-paru, secara berurutan atau seka-ligus, akan menyerang tubuh. Repotnya, tanda-tandanya sering nggak disadari.

Nah, lho. Kamu jangan coba-coba bergaul dengan narkoba. Bisa berabe. Uang melayang, badan ringsek. Pokoknya “error” berat deh. Kalo pun mau, ya “narkoba” yang lain aja, yakni, nasi, roti, kopi, dan bala-bala....

Barang haram

Mungkin saja, teman-teman kamu yang terlibat narkoba ada yang nggak ngeh kalo ternyata barang tersebut adalah termasuk daftar barang haram dalam pandangan Islam. Soalnya, banyak juga temen-teman kamu yang ngakunya muslim, tapi terlibat dalam kasus ini. Jelas, bahwa beliau tidak ngerti dan nggak paham seputar barang tersebut. Soalnya, bisa jadi informasi seputar narkoba dalam pandangan Islam belum menyentuhnya. Kemu-dian yang paling parah adalah, lingkungan tempat kawan-kawan kita bergaul amburadul. Jadinya klop.

Itu sebabnya, perlu diberi penjelasan bahwa narkoba itu, apa pun jenisnya; dari mulai ganja alias cimeng, heroin, kokain, ekstasi, sabu-sabu, putauw dan saudara-saudaranya itu adalah barang haram. Sabda Rasulullah saw: “Segala yang menga-caukan akal dan mema-bukkan adalah haram” (HR. Imam Abu Daud).

Syeikh Ibnu Taimi-yah sebagaimana yang dikutip Sayyid Sabiq dalam Fiqh as-Sunah, menyatakan bahwa ha-dis tersebut mencakup segala benda yang merusakkan akal tanpa membeda-bedakan jenis dan tanpa terikat cara pemakaiannya, baik di-makan, diminum, di-hisap, disuntik dan sebagainya. Maka ben-da-benda yang merusak akal tersebut, termasuk putauw, ekstasi dan sejenisnya dari anggota narkoba, jelas terkategori haram. Dan sebagai-mana pedoman Islam setiap pelaku perbuatan haram akan diganjar dengan hukuman.

Bagaimana dengan para penjualnya? Adalah hal yang menggelikan bila sekarang ini hanya dikenakan sanksi bagi para pemakai tapi membiarkan penjualnya berkeliaran dengan bebas. Dalam hal ini terdapat kaidah umum dari para ulama: “Apa saja yang diharamkan, maka diharamkan pula dijualbelikannya”. Kaidah ini berlandaskan kepada hadis Rasulullah saw dari Ibnu Abi Syuaibah: “Jika Allah mengharamkan sesuatu, maka haram pula harganya (yang diperoleh dari benda tersebut).

Sadar diri

Cukuplah ini memberikan gambaran yang jelas buat kita semua, bahwa jangan berani coba-coba akrab dengan narkoba. Kalo udah jadi junkies, pengobatannya aja nggak cukup ratusan ribu rupiah, bisa jadi malah jutaan. Ambil contoh metode akupuntur. Biaya yang biasa diperlukan untuk terapi ini di Jakarta bervariasi dari 20 ribu sampai 75 ribu rupiah per pertemuan. Bahkan ada yang harus berobat sampe 20 kali pertemuan (HAI, No 6 Tahun 25). Belum lagi harga obat lainnya. Untuk menghantam pengaruh morfin di dalam tubuh penderita, ada yang harus minum obat rata-rata 10-12 butir per hari. Harga obatnya sendiri mencapai 1,5 juta sampe 2 juta perak per 50 butir. Maklum obat impor. Walah? Naudzubillahi min dzalik!

Terakhir, kita tetep meminta bapak-bapak aparat dan pejabat untuk menyelesaikan kasus ini. Sebab, tanpa peran aktif penguasa, rasanya boleh dbilang bakalan kurang “gereget’ deh. Jadinya percuma aja BIP jadi Duta Anti Narkoba RCTI, yang sering gembar-gembor, “Aku gemuk lagi…” Iya nggak?

Sobat muda muslim, narkoba emang “nikmat” membawa sengsara. Wuah, keluar duit gede, badan rusak, dosa lagi. Apa yang mau diharapkan? Jadi, jangan coba-coba deh! Dan, tentu jangan sampe salah gaul dong.

Generasi Biang Togel

Judi! Menjanjikan kemenangan/Judi! Menjanjikan kekayaan/Bohong! Bila engkau menang, itu awal dari kekalahan/Bohong! Bila engkau kaya itu awal dari kemiskinan.....Apa pun nama dan bentuk judi/Semuanya perbuatan keji/Judi....

Hmm.. petikan lagu karya Bang Rhoma Irama ini kayaknya pas sekali dengan kasus judi togel yang marak banget belakangan ini. Gimana nggak, yang namanya judi togel, nggak di kampung, nggak di kota. Dari mulai abang tukang becak, abang tukang bakso, abang sopir, penjual sayur, ibu rumah tangga, petani, sampe pelajar, mahasiswa dan bahkan pekerja kantoran. Wuih, pokoknya mereka tumblek-blek menyatukan perasaan dan pikirannya dengan judi togel alias toto gelap. Hanya dengan rumus “suka-suka” utak-atik angka, keluar tuh angka hoki yang kalo dipasang dan menang bakal bikin tajir mendadak. Setidaknya itulah anggapan mereka.Naudzubillahi min dzalik.

Suatu hari seorang teman cerita kalo doi nggak habis pikir dengan ulah beberapa mahasiswa yang nggak malu dan ragu lagi untuk main togel. Saat itu, sang teman cerita kalo di sebuah universitas di Bogor, teman-teman mahasiswa harapan bangsa ini sedang sibuk mengutak-atik angka yang akan dipasangnya lewat permainan togel. Sang mahasiswa, dengan semangat meramu angka-angka itu bak seorang pakar matematika untuk menurunkan rumus “suka-suka”. Hasilnya adalah angka yang bakal dipasangnya malam itu. Walah? Padahal, kalo disuruh ngerjain soal kalkulus mah, maaf, begonya setengah hidup. Ih, amit-amit deh.

Sobat muda muslim, kita prihatin banget. Terus terang, apa yang mau diandalkan untuk kemajuan negeri ini di masa mendatang, kalo sekarang generasi ini jadi cikal-bakal generasi biang togel. Teman mahasiswa selain sibuk memfotocopy diktat kuliah, juga sibuk mengisi kupon togel. Malah boleh jadi ngisi kupon togel adalah kebiasaan rutin yang bisa mengalahkan urusan kuliah. Aduh biyuuuunggg.

Wah, wah, wah, togel emang bikin orang jadi bertingkah nggak normal. Tepatnya kudu dirujuk ke RSJ (Rumah Sakit Jiwa). Gimana nggak, contohnya, ada yang nyari angka keberuntungan itu lewat mimpi. Hebatnya lagi, mereka punya kitab tafsir mimpi segala. Caranya dengan mencocokkan mimpi yang dialaminya lalu dicari padanannya di kitab tafsir mimpi. Soalnya di situ udah ada angka-angkanya. Selanjutnya? Masang angka itu lewat permainan judi togel. Ada juga yang rela nanya sama orang gila (lho, ini yang gila siapa?), malah ada yang nggak takut lagi ngedatangin kuburan dan nginep di sana, dengan harapan dapat wangsit untuk nomor hoki, termasuk kalo harus melototin plat nomor mobil yang kebetulan ngelewat di jalan. Celakanya lagi, malah ada yang percaya dengan ucapan anak-anak segala, dengan anggapan bahwa ucapan anak adalah omongan malaikat. Walah, untuk urusan judi sampe bawa-bawa malaikat, gimana nggak parah kan? Udah gitu kadang ngomongnya enteng banget, kayak yang nggak takut dosa, gitu lho. Naudzubillah min dzalik. Dunia...dunia...

Ah, maaf saja, kayaknya emang udah pada nggak waras. Nggak heran dulu ada juga jenis judi dengan nama PORKAS yang kemudian diplesetkan jadi Putar Otak Rencana Kaya, Akhirnya Sinting. Kalo TOGEL? Bisa jadi, maaf saja, Tolol dan Gelo (baca: gila). Ih?

Mengkhawatirkan

Sobat muda muslim, kalo lihat faktanya, batasan antara iseng dan nyandu jadi tipis banget. Ada yang ngakunya iseng, tapi masangya hampir tiap hari putaran. Biasanya seminggu bisa sampe lima kali, dengan beragam jenis kupon togel; ada Singapura, Malaysia, Pek Kong, Tokam, Sampurna, dan Kim. Bayangin, kalo masang semua jenis kupon itu, udah berapa duit bisa menguap? Itu mah nyandu dong, bukan lagi iseng.

Pesona togel emang bikin kita miris. Masyarakat jadi pemalas dan dibuai mimpi. Melihat faktanya, pemasang yang ngejagoin dua nomor hokinya, hanya cukup membayar seribu perak saja. Dan kalo tembus, sang pengepul (koordinator pengecer) kudu membayar pemasang tersebut 60 ribu rupiah. Wah, bagi orang yang malas usaha dan lemah iman, pasti deh tergiur ikutan masang.

Sobat muda muslim, togel udah kayak semut, ada di mana-mana dan kian mengkha-watirkan. Celakanya lagi, para pejudi adalah kalangan rakyat jelata, yang rela ngeluarin uangnya demi mewujudkan mimpi menjadi miliuner dadakan.

Ada fakta menarik tapi sekaligus bikin miris, sebuah penelitian menyebutkan kalangan miskin perkotaan di Jakarta kini mencapai enam juta orang. Dengan perhitungan minimal, kalau separuhnya (tiga juta orang) terlibat dalam perilaku judi togel ini dan mengeluarkan uang bervariasi mulai dari Rp 3.000 - Rp 10.000 per harinya, akan diperoleh 3 juta X Rp 5 ribu (ambil angka rata-rata per orang) sebesar Rp 15 miliar sehari. (Media Indonesia, 7 Maret 2002)

Judi, apapun namanya kerap memun-culkan penyakit sosial yang super kompleks (ciee.. ngomongnya serius banget..he..he..he..). Bener, kalo kamu perhatiin masyarakat miskin ibu kota, mereka terus menerus membeli togel dengan harapan jadi jutawan mendadak. Bisa dibayangkan, mereka yang menghuni rumah-rumah kumuh di bantaran kali, di pinggir rel kereta api, hidup susah sebagai pemulung, penghasilan pas-pasan dari usahanya yang seringnya seret dan cemas dikejar-kejar tibum. Eh, ternyata uang yang didapat dari kerja susah payah itu harus dikeluarin untuk beli togel. Harapannya hanya satu, kaya mendadak. Atau paling nggak, bisa mendapat uang banyak untuk menutupi ‘lubang-lubang’ kehidupannya yang biasa ‘gali lubang tutup lubang’ itu. Di kalangan masyarakat menengah ke bawah, berlaku hukum, bila lupa membeli togel, berarti janganlah bermimpi kaya mendadak. Tapi, itu hanya mimpi. Ketika 'terbangun', kepahitan hidup menderanya kembali.

Sobat muda muslim, kekhawatiran ini semakin menjadi-jadi. Gimana nggak, para pejudi yang mayoritas rakyat miskin yang terbuai mimpi, tetap dalam penderitaannya, sementara para bandar hidup senang dan foya-foya mandi duit. Misalnya, satu bandar di Jakarta beromzet Rp 300 juta hingga Rp1 miliar per malam (Media Indonesia, 7 Maret 2002).

Tentu ini pemandangan yang kontras banget. Perihnya lagi, para aparat dan pejabat yang seharusnya menjebloskan para bandar itu ke bui, malah rela mengais rejeki haram dengan mengamankan usaha mereka. Untuk “jasanya” itu, bapak-bapak oknum aparat dan oknum pejabat bakal menerima uang setoran dari para raja judi. Bagi yang setorannya ‘kenceng’, dijamin aman usahanya. Kalo nggak nyetor, itu sih alamat bakal dikarungin! Meski akhirnya dilepas juga kalo udah ngasih sogokan. Ambil contoh, pekan lalu seorang bandar togel di Cimanggis, berinisial PA, ditangkap oleh Polda Metro karena bandar ini terkenal 'bandel', menolak memberikan setoran ke institusi keamanan Ibu Kota ini. Kecuali kepada keamanan setempat, seperti koramil, polsek, dan Babinsa. Namun, setelah membayar tebusan Rp 40 juta, bandar ini akhirnya dilepas. (Media Indonesia, 7 Maret 2002)

Coba, gimana nggak mengkhawatirkan kondisi ini. Tapi anehnya, meski udah banyak yang jadi korban togel, pemerintah milih adem-ayem aja. Sebagian masyarakat yang teriak protes keras supaya pemerintah menutup bisnis haram ini, tapi rupanya protes itu dikacangin alias didiemin ama bapak-bapak pejabat dan aparat kita. Walah?

Sobat muda muslim, kita pantas untuk khawatir dan sekaligus kecewa. Khawatir, karena kondisi ini bisa tambah parah dan runyam. Bisa menyeret semua orang masuk ke dalam lingkarannya. Semua bisa jadi nyandu judi togel. Kita kecewa, karena bapak-bapak pejabat dan bapak-bapak aparat yang harusnya menegakkan hukum, malah kompakan menga­man­kan usaha para bandar judi. Teman, inilah salah satu produk dari sistem kapitalisme. Sistem yang bertentangan dengan Islam.

Haram berjudi

Kondisi masyarakat yang kian jauh dari Islam ini telah membuat mereka hidup dengan motto “semau gue”. Padahal bagi seorang muslim, hidup di dunia ini nggak bisa dengan aturan “suka-suka” sesuai selera masing-masing. Tapi semuanya kudu tunduk pada aturan Allah dan Rasul-Nya. Termasuk dalam urusan permainan togel ini. Togel termasuk judi, dan jelas hukumnya haram. Firman Allah Swt.:

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". (TQS al-Baqarah [2]: 219)

Dalam ayat lain, Allah Swt. berfirman: Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan . (TQS al-Mâidah [5]: 90)

Sobat muda muslim, nampaknya nggak banyak masyarakat ngeh soal hukum berjudi. Atau kalo pun tahu bahwa itu dilarang dalam Islam, alasannya suka ada aja. Tepatnya “ngeles”. Pura-pura nggak tahu atau nggak mau tahu? Para pejudi bisa bebas main togel tanpa diusik aparat. Mungkin inipula yang membuat mereka berani berbuat dosa. Selain yang nekat seperti itu, ada juga yang masih “malu”. Misalnya, mereka acapkali ngakalin, bahwa ini bukan judi, tapi sekadar permainan aja. Udah gitu suka ada aja yang bilang cuma iseng. Wah, kamu bisa bilang sama teman kamu itu, walaupun alasannya cuma iseng, tapi bukan berarti judi jadi boleh. Tetep aja perbuatan itu haram dan pelakunya akan diganjar hukuman. Dalam Islam, kasus perjudian ini masuk dalam pembahasan ta’zîr. Artinya, sanksi untuk kasus ini akan ditentukan oleh seorang hakim (qadly). (Abdurrahman al-Maliki, Nidzamul ‘Uqubat, Bab Ta’zir, hlm. 203)

Nah, nanti bergantung keputusan hakim, pejudi bisa dicambuk bisa juga dipenjara. Wah?

Tanggung jawab bersama

Ngeliat faktanya yang makin nggak karuan, tentunya ini kudu segera diselesaikan. Kalo nggak, kita udah bisa ngebayangin gimana nasib masa depan negeri ini. Ancor pesena telor, kata Yus Yunus mah. Akibat judi, yang kaya aja bisa jatuh bangkrut, apalagi yang miskin? Tambah kelelep aja. Yang ada di awang-awang, cuma mimpinya doang. Dirinya, tetap bergelut dengan kemiskinan. Orang yang begitu, kata Pak Zainuddin MZ mah ibarat orang makan roti tapi ngimpi. Ya, nggak nikmat dong.

Lebih-lebih bagi teman mahasiswa dan pelajar, kamu adalah masa depan kemajuan negeri ini. Pelajar dan mahasiswa Islam apalagi, punya tanggung jawab yang besar untuk memajukan Islam. Gimana jadinya kalo kamu cuma sibuk ngurusin kupon-kupon togel dengan harapan tajir mendadak. Kata Bang Rhoma, Kalo pun menang adalah awal dari kekalahan.

Sobat muda muslim, ini tanggung jawab bersama; Individu (termasuk di dalamnya keluarga), masyarakat, dan juga negara. Semuanya kudu kompakan memberantas togel. Sebab, inilah tiga pilar penegakan hukum. Kalolah kejadian bahwa ada individu dan masyarakat yang kebetulan senewen, namun bila penguasanya tegas, maka insya Allah bisa aman. Karena hukum ditegakkan. Tapi kalo semua pilar penegakkan hukum roboh, apalagi yang mau diharapkan? Jadi deh, generasi biang togel makin berbiak. Naudzubillah min dzalik!

MOS Tanpa Plonco? Bisa Kok!

Tahun ajaran baru gini, biasanya musim apaan sih? Yup, pasti musim MOS alias Masa Orientasi Siswa. Hari-hari perdana para pelajar memasuki sebuah lingkungan sekolah baru (SMP dan SMA) diharuskan mengikuti program MOS yang biasanya di-handle ama kakak kelasnya. Berbagai peraturan pun diterapkan, mulai dari membawa tas dari karung beras atau kantung kresek ukuran jumbo, rambut dikucir sejumlah tanggal lahir (bagi cewek) dengan pita warna-warni, pakai sabuk dari tali plastik, sampai kertas dikalungkan bertuliskan nama-nama aneh yang harus diikat di leher sampai kegiatan MOS selesai. Itu adalah sebagian gambaran umum MOS yang berlaku di sekolah-sekolah, termasuk di kampus-kampus perguruan tinggi dengan nama OSPEK. Malah, sangat boleh jadi lebih keras dan lebih sadis, gitu lho. Gawat!

Jaman dulu lebih “error”
Dulu, kegiatan MOS ini dibungkus oleh kegiatan wajib yang bernama Penataran P4 yang booming banget di masa orde baru. Di dalam kelas para siswa dan mahasiswa dicekokin tentang Pancasila, di luar ruangan mereka dikerjain para senior, dari perlakuan biasa sampe yang membahayakan nyawa. Gimana nggak, kalo ternyata para yunior ini ada yang menemui ajal karena dikerjain senior untuk meminum air aki (beeuh, error abis tuh!). Hal ini beneran terjadi di era tahun 80-an. Yup, kalo sekadar bonyok-bonyok karena dipukuli senior, itu hal yang lumrah banget.

Terus di tahun 90-an, MOS dengan selubung penataran P4 udah mulai agak manusiawi. Hukuman fisik sudah mulai dilarang di sekolah-sekolah dan kampus-kampus. Hal ini tidak terlepas dari peran media massa yang banyak memberitakan tentang kekejaman MOS. Sedikit bisa bernafas lega bagi mereka yang masuk tahun ajaran di era akhir 90-an meski belum benar-benar hilang budaya kekerasan ini. Memang sih nggak sampai main pukul ke yunior, tapi hukuman semisal push-up, dan lari-lari keliling lapangan masih kental terasa. Apalagi yang namanya bentakan, masih ada kok.

Aksesoris lain yang menyertai MOS biasanya disuruh pake tas yang nyeleneh. Mulai dari yang berbahan karung goni yang biasa untuk menampung beras hingga karung kain yang biasa dipake tepung terigu. Rambut juga nggak boleh dibiarkan nganggur alias diberi rumbai-rumbai atau pita warna-warni. Persis deh kayak pasien kabur dari RSJ hehehe...

Oya, ada lagi persyaratan tambahan semisal hari pertama bawa coklat dua batang, hari kedua bawa soft drink. Nggak jarang ada yang disuruh bawa lembaran koran/surat kabar dan beberapa ons bawang putih. Alasannya sih untuk dijual kembali dan digunakan bakti sosial. Tapi kalo cokelat dan minuman kaleng, so pasti masuk perut kakak senior dong. Curang yah?

MOS, ajang kenalan dan disiplin?
Banyak yang berdalih bahwa ajang orientasi semacam ini adalah momen perkenalan antara senior dengan yunior, dan begitu sebaliknya. Dengan kekerasan dan tindakan-tindakan ‘kejam’ diharapkan si yunior mudah hapal dan kenal dengan kakak senior. Kenal sih kenal tapi apa asyiknya dikenal seseorang karena kekejamannya? Trus masa’ iya sih, ajang perkenalan harus pake hukuman dan bentakan? Apa nggak ada cara lain yang lebih tepat dan manusiawi?

Saya ingat sebuah sekolah (nggak usah disebutin namanya ye) yang di saat sekolah-sekolah lain masih menerapkan orientasi ala barbar, sekolah ini udah menerapkan MOS yang beda. Pembuatan makalah secara berkelompok, kuis pengasah otak, dan beberapa permainan mendidik menjadi alternatif untuk mengenal sekolah dan seniornya. Tak ada suara bentakan, hukuman fisik atau teriakan kasar senior ke yunior. Keren kan?

Cara di atas jauh lebih efektif dan sesuai dengan tujuan pendidikan daripada sebuah ajang kekerasan di dalam institusi sekolah maupun kampus. MOS dengan kekerasan hanya akan melestarikan budaya kekerasan dari generasi ke generasi. Sang yunior yang dibentak-bentak dan diberi hukuman fisik, pastilah menyimpan sebuah dendam di hati yang itu nantinya akan dilampiaskan ke yunior tahun berikutnya. Selalu seperti ini berulang terus tiap tahunnya. Masih ingat kan kasus IPDN? Lalu yang masih anget adalah kasus kekerasan di dalam kampus STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran).

Oya, alasan tentang perlunya kekerasan dalam MOS sebagai ajang perkenalan, nggak masuk akal. Dalih kedua adalah demi menegakkan disiplin. Apa iya disiplin bisa diterapkan dengan cacian dan makian? Naif banget alasan itu.

Mengapa ini terjadi?
Budaya kekerasan dalam dunia pendidikan adalah hal yang aneh dan tak masuk akal bagi mereka yang masih berakal sehat. Lha wong pendidikan itu gunanya untuk mengubah perilaku dari yang semula tidak terdidik menjadi generasi yang terdidik. Pernah dengar istilah ‘kayak orang nggak berpendidikan aja’ bila ada seseorang atau oknum terdidik tapi melakukan tindakan-tindakan yang nggak semestinya? Itu artinya, tujuan pendidikan memang seharusnya melahirkan orang-orang dengan perilaku selayaknya orang terdidik. Nah, kalo ada orang-orang yang berpendidikan tinggi namun masih menerapkan sikap dan perilaku kayak orang nggak berpendidikan, siapa yang salah?

Coba kita telusuri satu per satu adanya kekerasan di dunia pendidikan. Nggak peduli level SMP, SMA, perguruan tinggi negeri maupun swasta bahkan sekolah tinggi milik negara, semua aktivitas yang terjadi di dalamnya termasuk kegiatan MOS pastilah atas sepengetahuan dan izin atasan. Bo’ong banget kalo ada pimpinan sekolah, kampus, atau institusi yang mengatakan nggak tahu adanya budaya kekerasan di dalam wilayah yang dipimpinnya. Toh nyatanya bila sang pemimpin tegas dengan ancaman pemberian sanksi bagi yang masih melanggar, maka angka kekerasan di dunia pendidikan bisa juga ditekan.

Masalahnya, nggak semua orang yang punya kedudukan sebagai pemimpin punya ketegasan sikap. Banyak dari mereka yang seolah-olah nggak peduli adanya penyimpangan dalam lembaga yang dipimpinnya. Ini semua hal yang lumrah banget terjadi akibat kebingungan pihak pemerintah sendiri dalam merumuskan tujuan pendidikan. Aduh, kacau banget kan? Ya, memang menyedihkan.

Solusinya, gimana dong?
Maksud awal masa orientasi itu sesungguhnya positif yaitu untuk pengenalan lingkungan sekolah atau kampus kepada calon penghuni baru termasuk para senior. Masa orientasi ini jadi negatif ketika disalah-gunakan dengan kekerasan meski dalihnya demi kedisiplinan. Kedisiplinan nggak mungkin bisa ditegakkan dengan bentakan, cacian bahkan tonjokan. Bila pun ada yang terlihat disiplin akibat diterapkannya sistem ala preman ini, bisa dipastikan itu hanya semu belaka.

Saya dulu punya teman yang disiplin banget dengan diterapkannya MOS dengan bentakan, cacian dan hukuman fisik. Tapi apa yang terjadi ketika waktu sholat tiba? Ia santai aja tuh, nggak tergerak untuk segera ambil wudhu dan menunaikan sholat. Kalo benar kedisiplinan ada pada dirinya sebagaimana dia tunduk di depan senior, maka seharusnya ia lebih tunduk dong di hadapan Sang Mahakuasa (karena pasti di atas segalanya). See, ternyata kedisiplinan dengan kekerasan hanya menghasilkan hal yang palsu saja. Bahkan banyak terjadi, yunior bersikap sok menantang senior bila ia semakin ditekan untuk tunduk dengan kekerasan.

MOS yang santun bisa diterapkan kok di tengah budaya teriakan dan hukuman fisik. Saya dulu pernah mencobanya ketika SMA jadi senior, dengan menerapkan hukuman yang berbeda ketika ada yunior yang melanggar peraturan. Suruh aja tuh yunior menghapal ayat Qursy atau surat-surat pendek lainnya. Terus ajak dialog tentang motivasi dia melanggar dan apa penyebabnya. Dijamin deh, selain muka kakak senior nggak perlu harus kayak Nenek Lampir dan Si Gerandong karena teriak-teriak biar kelihatan sok jahat, sikap ini jauh lebih terlihat bijak dan manjur menekan angka pelanggaran. Dengan cara ini, saya dulu jadi spesialis menangani yunior-yunior bengal yang sulit diatur (ciee… kagak maksud nyombong lho…)

Intinya, para yunior itu adalah manusia yang punya akal dan hati. Sentuhlah kedua hal ini (akal dan perasaannya), maka sebengal apa pun karakter manusia, insya Allah bisa disembuhkan kok. Selain tidak menimbulkan dendam, cara elegan ini bisa membuat seseorang mendapat hidayah dengan semakin tebalnya iman dan keyakinannya terhadap keindahan Islam yang penuh dengan kelembutan.

“Sekolah/kampus saya bukan sekolah/kampus Islam”, mungkin di antara kamu ada yang berdalih. Harap tahu saja, saya pun tak pernah bersekolah atau masuk kampus Islam. Tapi bisa tuh cara di atas diterapkan. Buang pikiran kamu yang terkotak-kotak antara sekolah/kampus Islam dan umum. Pola pikir kayak gini khas banget milik para sekuleris alias mereka yang suka memisahkan agama dengan kehidupan. Padahal kalo Islam, nggak berlaku tuh yang namanya sekularisme. Munculnya carut-marut pendidikan termasuk penyelenggaraan MOS ini, yang pasti adalah karena dihilangkannya unsur keimanan dan ketakwaan dalam kurikulum. Ada sih, tapi secuil dan banyak guru yang nggak bisa cara ngajarinnya, karena antara ilmu dan amal nggak nyambung.

Sudah saatnya kita semua, tidak peduli sekolah/kampus Islam atau umum, balik ke sistem pendidikan Islam yang bertujuan menciptakan generasi berkepribadian Islam juga. Yang namanya kepribadian Islam, standarnya dalam berbuat pasti Islam juga dong. Jadi, nggak perlu tuh pemerintah teriak-teriak melarang perpeloncoan berkedok MOS. Sudah otomatis orang yang punya kepribadian Islam nggak akan melakukan sesuatu yang melanggar syariat Islam, termasuk penggunaan kekerasan dalam area pendidikan.

Jadi ternyata, Islam itu solutif banget yah. Bahkan dalam penyelenggaraan MOS pun, bila acuannya Islam maka tak perlu ada masalah kayak gini. Jadi udah saatnya deh negeri ini menoleh ke Islam bila menginginkan kehidupan generasi yang lebih baik. Supaya fenomena kekerasan ala IPDN, STIP atau genk motor dan Gank Nero bisa diberantas tuntas bila pihak yang berwenang menghendaki kebaikan bagi para siswanya.

Oya, buat kamu-kamu yang kebetulan jadi panitia MOS atau OSPEK, jangan takut untuk memberikan nafas segar bagi dunia pendidikan kita dimulai dari keberanian kamu menawarkan konsep Islam yang indah ini. Mau kan kamu jadi agent of change ini? Harus dong, karena imbalannya nggak main-main, yaitu berupa kemuliaan di dunia dan pahala di akhirat kelak. Asyik kan? [ria: riafariana@yahoo.com]

Jomblo Vs Pacaran

Jomblo. Satu kosakata yang sangat ditakuti oleh banyak orang saat ini terutama remaja. Why? Karena kosakata ini mengandung makna negatif yang bikin alergi. Suatu pertanda tidak lakunya seseorang untuk mendapatkan teman kencan dari lawan jenis. Idih…nggak laku? Emangnya jualan kolor?

Tapi asli kok, banyak banget remaja apalagi kalangan cewek yang merasa seperti kena kutukan kalo sampe predikat jomblo mereka sandang. Akhirnya dengan berbagai macam cara mereka berusaha untuk melepaskan kutukan ini meskipun dengan berbagai cara. Sudah nonton film 30 Hari Mencari Cinta? Di film itu kan menceritakan tiga orang remaja cewek yang sama-sama berada pada kondisi jomblo. Mereka membuat kesepakatan untuk mencari pacar dalam waktu 30 hari. Bagi yang menang, maka ia akan menjadi raja dan diperlakukan bak putri karena semua pekerjaan rumah akan dikerjakan oleh yang kalah.

Singkat cerita, mereka bertiga benar-benar fokus untuk mendapatkan pacar dalam rentang waktu itu. Karena ngebetnya, sampai-sampai harga diri pun sempat akan tergadaikan ketika sang pacar menginginkan making love alias berhubungan seksual layaknya suami-istri. Belum lagi ngebetnya salah satu tokoh di sana pingin merasakan nikmatnya ciuman bibir sampai melatih diri dengan guling. Naudzhubillah.

Belum lagi resiko bubarnya persahabatan yang mereka bina selama ini hanya karena cemburu dan khawatir pacarnya diembat sahabat sendiri. Meskipun ending-nya semua pacar-pacar karbitan itu pada bubar, tapi kita bisa melihat seberapa parah kondisi remaja kita saat ini terutama dalam pergaulannya.

So, ternyata predikat jomblo begitu menakutkan buat sebagian remaja yang miskin iman. Mereka lebih memilih jalan maksiat dengan pacaran daripada menyandang status ini. Meskipun seringkali dalam pacaran mereka juga merasa terpaksa. Bisa karena dipaksa teman, bisa karena dipaksa ortu, bisa juga dipaksa diri sendiri karena konsep diri yang salah. Jadi emang bisa banyak alasan.

Dipaksa teman terjadi bila teman satu genk pada punya cowok semua. Trus ada satu yang nganggur. Jadilah ada pemaksaan beramai-ramai supaya yang satu ini segera dapat gebetan. Udah deh, siapa aja boleh asal berstatus cowok. Waduh, gawat juga kan. Bisa-bisa sapi dipakein celana bisa diembat juga tuh saking nafsunya (hehehe…)

Ortu bisa jadi mengambil peranan dalam ajang kemaksiatan ini. Ada loh beberapa tipe ortu yang kelimpungan ketika anak gadisnya belum punya pacar. Padahal anaknya sendiri udah nyadar bahwa ini adalah ajang berlumur dosa. Eh, ortunya ngotot agar sih anak nyari pacar. Tulalit banget kan?

Atau bisa juga konsep diri remaja yang salah. Ia merasa merana tanpa punya pacar. Ia merasa jelek dan nggak laku ketika belum pernah merasakan rasanya pacaran. Ia akan jauh lebih bahagia bila ada cowok di sampingnya. Nah, ini adalah konsep yang salah dan menyesatkan.

Belum lagi dorongan media baik TV, radio ataupun majalah yang menawarkan gaya hidup bebas dengan label pacaran yang semakin gencar dilakukan. Udah deh, itu semua adalah banyak faktor yang bikin remaja ngebet untuk bisa pacaran. Padahal, apa sih yang didapat oleh pacaran, adalah perbuatan yang bisa kamu putuskan dengan sadar. Jadi, tulisan kali ini akan membantu kamu untuk membuat keputusan benar dalam hidup. Jangan sampai kamu melakukan perbuatan yang salah dan membuatmu menyesal kemudian. Lanjut!

Kenapa harus pacaran?
Hayo…bisa nggak kamu jawab pertanyaan ini? Kenapa harus pacaran? Hmm…mungkin di antara kamu ada yang menjawab:
‘biar nggak kuper’
‘biar nggak dibilang nggak laku’
‘biar ada cowok yang sayang sama kita’
‘biar ada semangat untuk belajar’
‘biar nggak malu dengan teman-teman yang pada punya pacar juga’
‘sekedar pingin tahu rasanya’
dll, masih banyak lagi alasan yang bisa kamu ajukan sebagai pembenaran. Oke deh, kita coba telaah satu per satu yah, masuk akal nggak sih alasan-alasan yang kamu punya itu.

Pacaran, adalah aktivitas yang dilakukan berdua dengan sang kekasih sebelum menikah. Aktivitas atau kegiatan ini bisa bermacam-macam bentuknya. Bisa nonton bareng, makan bakso berdua, jalan berdua atau belajar bersama. Tapi alasan terakhir ini kayaknya banyak nggak jadi belajarnya deh karena pada sibuk mantengin gebetan masing-masing. Iya apa iya?

Kalo kamu sekedar takut dibilang kuper karena nggak mau pacaran, maka mereka para aktivis pacaran itulah yang sebenarnya orang paling kuper dan kupeng sedunia. Why? Karena saya yakin orang pacaran itu dunianya akan berkutat dari pengetahuan tentang doi aja. Coba kamu tanya apa dia tahu perkembangan teknologi terkini? Apa dia tahu di Palestina itu ada masalah apaan sih? Apa dia juga tahu kalo Amerika itu ternyata adalah teroris sejati?

Yakin deh, pasti mereka yang suka pacaran itu nggak bakalan tahu topik beginian. Kalo begitu, mereka itulah yang kuper dan kupeng. Paling tahunya cuma apa hobi sang pacar, apa wakna favoritnya, apa makanan kesukaannya, dll. Coba Tanya berapa nilai ulangan matematikanya, fasih nggak bahasa Inggris-nya, bagus nggak karangan bahasa Indonesia-nya, dan hal-hal seputar itu, pasti deh aktivis pacaran pada bloon untuk hal beginian. Kalo pun ada yang pintar, itu sama sekali nggak ada hubungannya dengan pacaran sebagai semangat belajar.

Sebaliknya, pacaran adalah adalah ajang maksiat. Bukankah sudah dikatakan oleh Rasulullah saw., “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan wanita itu tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka adalah setan” (HR Ahmad)

Waduh, emang kamu mau jadi temannya setan? Hiii, naudzubillah banget tuh.
Jangan beralasan kamu kuat iman, maka tetep aja ngeyel berdua-duaan. Banyak tuh kasus ngakunya aktivis rohis dan niatnya dakwah eh..malah kebablasan pacaran. Teman SMA saya dulu aja ada yang MBA alias Married By Accident alias lagi hamil di luar nikah karena pacaran. Udah sekolahnya nggak bisa lanjut karena perutnya semakin gendut, ia adalah pihak yang dirugikan. Tuh, si laki-laki yang menghamili bisa dengan enaknya melanjutkan sekolah sampe tuntas. Belum lagi beban dosa besar yang harus ia tanggung. Ingat, berzina adalah salah satu dosa besar yang hanya bisa ditebus dengan taubatan nasuha. Taubat yang sungguh-sungguh dan tak akan pernah mengulangi lagi. Bukan taubat jenis tomat, saat ini tobat, besok kumat. Duh, itu sih namanya main-main alias nggak serius dan mau berubah total. Nggak baik, Non!

Jomblo adalah pilihan
Kok bisa? Di saat teman-teman pada risih dengan status jomblo, masa’ sih malah bisa dijadikan status pilihan? Bisa aja, why not gitu loh? Lagian tergantung persepsi kan?

Kondisi jomblo adalah kondisi yang independen, mandiri. Di saat teman-teman cewek lain serasa nggak bisa hidup tanpa gebetan, kamu merasa sebaliknya. Nggak harus jadi cewek tuh aleman, manja, tergantung ke cowok, dan merasa lemah. Huh…jijay bajay banget. Jadi cewek kudu punya pendirian, nggak asal ikut-ikutan. Meskipun teman satu sekolah memilih pacaran sebagai jalan hidup, kamu tetap keukeuh dengan prinsip: “jomblo tapi sholihah”. Huhuy!

Dulu, waktu saya masih duduk manis di bangku SMP dan SMA, ada seorang teman yang ngebet banget pingin punya pacar. Sampe-sampe kalo ada kuis di majalah remaja tentang siap-enggaknya pacaran, doi termasuk yang rajin mengisi untuk tahu jawabannya. Ternyata doi tipe yang sudah siap banget. Akhirnya fokus perhatian dia hanya ke cita-cita pingin punya pacar dan pacar mulu. Prestasi sekolah jadi anjlok. Padahal ternyata nggak ada yang mau sama doi (backsound : Kacian banget!).

Nah, beda kasus dengan muslimah sholihah. Ada atau nggak ada yang mau, dia nggak bakal ambil pusing. Mikirin rumus fisika aja sudah cukup pusing, pake mikir hal lain. Maksudnya, mikirin pacar atau pacaran adalah sesuatu yang nggak penting bagi dirinya. Selain ngabisin waktu dan energi, yang pasti menguras konsentrasi dan emosi.

Kalo kamu jadi cewek sudah oke, baik di otaknya, kepribadiannya apalagi akhlaknya, jadi jomblo bukan sesuatu yang terpaksa tuh. Malah jomblo adalah sebuah kebanggaan. Kamu bisa tunjukkan kalo jomblo adalah harga diri. Menjadi jomblo bukan karena nggak ada yang mau, tapi kitanya yang emang nggak mau kok sama cowok-cowok anak kecil itu. Lho, kok?

Iya, cowok kalo beraninya cuma pacaran itu namanya masih cowok kecil. Masa’ masih kecil udah pacaran. Huh! Kalo cowok yang udah dewasa, pasti ia nggak berani pacaran, tapi langsung dating ke ortu si cewek dan ngelamar. Merit deh jadinya. Selain menunjukkan tanggung jawab, cowok dewasa tahu kalo pacaran cuma ajang tipu-tipu dan aktivitas berlumur dosa. Hayo…pada berani nggak cowok-cowok kecil itu?

Jomblo tapi sholihah
Jangan pernah takut diolok teman sebagai jomblo. Jangan pernah malu disebut nggak laku. Toh, mereka yang berpacaran saat ini belum tentu juga jadi nikah nantinya. Tul nggak? Malah yang banyak adalah putus di tengah jalan, patah hati terus bunuh diri. Hiii, naudzubillah. Atau bisa jadi karena takut dibilang jomblo malah dapat predikat MBA tanpa harus kuliah alias Married By Accident.

Lagipula, cewek kalo mau dipacarin kesannya adalah cewek gampangan. Gampang aja dibohongin, gampang diboncengin, gampang dijamah, dan gampang-gampang yang lain. Idih…nggak asyik banget! Toh, nantinya para cowok itu juga bakal males sama cewek beginian karena udah tahu ‘dalemannya’, mereka pinginnya dapat cewek baik-baik.

Terlepas apa motivasi mereka, yang pasti kamu kudu punya patokan atau standar tersendiri. Kamu nggak mau pacaran karena itu dosa. Kamu memilih jomblo karena itu berpahala dan jauh dari maksiat. Kamu nggak bakal ikut-ikutan pacaran karena takut dibilang jomblo dan nggak gaul. Kamu tetap keukeuh pada pendirian karena muslimah itu orang yang punya prinsip. Itu artinya, kamu selalu punya harga diri atas prinsip yang kamu pegang teguh. Iya nggak seh?

Karena banyak juga mereka yang meskipun sudah menutup aurat dengan kerudung gaul, masih enggan disebut jomblo. Jadilah mereka terlibat affair bernama pacaran sekadar untuk gaya-gayaan. Bener-benar nggak ada bedanya dengan mereka yang nggak pake kerudung. Malah parahnya, masyarakat akan antipati sama muslimah tipe ini. Berkerudung tapi pacaran. Berkeredung tapi masih suka boncengan sama cowok non mahrom. Berkerudung tapi sering berduaan sama cowok dan runtang-runtung nggak jelas juntrungannya. Padahal, kelakuannya yang model begitu itu bisa membuat jelek citra kerudung, imej Islam jadi rusak, dan tentunya doi bikin peluang orang lain untuk menilai dan memukul rata bahwa doi mewakili muslimah. Parah banget!

Intinya, predikat jomblo jauh lebih mulia kalo kamu menghindari pacaran karena takut dosa. Menjadi jomblo jauh lebih bermartabat kalo itu diniatkan menjauhi maksiat. Menjadi jomblo sama dengan sholihah kalo itu diniatkan karena Allah semata. Bukankah hidup ini cuma sementara saja? Jadi rugi banget kalo hidup sekali dan itu nggak dibikin berarti. Jadi kalo ada yang rese dengan kamu karena status jomblomu, katakan saja ‘jomblo tapi sholihah, so what gitu loh!’. Hidup jomblo! [riafariana: riafariana@yahoo.com]