Cari Blog Ini

Jumat, 18 Juni 2010

Bermula dari Pacaran, Terjerumus Ketagihan Gaul Bebas


Suatu ketika, seorang remaja putri sebuah SMA mengirim email kepada penulis. Hatinya tergugah setelah membaca salah satu artikel yang saya tulis berjudul “Jomblo vs Pacaran.” Ia pun menceritakan tentang pengalamannya yang kebablasan dalam bergaul sehingga melakukan hubungan seks di luar nikah. Setelah melakukannya, ternyata si pacar pergi meninggalkannya dan mencari cewek lain. Ia pun terluka tapi juga ketagihan.

Remaja cewek ini sadar perbuatannya salah tapi ia sulit melepaskan diri dari daya tarik gaul bebas. Selain itu, setiap kali ingin bertaubat, ia selalu merasa kotor dan tak pantas menerima ampunan Allah. Ia pun terjerembab lagi dalam lumpur dosa yang berkepanjangan.

Sobat remaja, cerita di atas adalah satu kisah nyata yang mewakili betapa memprihatinkan pergaulan generasi muda kita. Berawal dari pacaran yang makin membudaya di sekitar kita, pintu perzinaan jadi terbuka lebar. Banyak di antara remaja yang merasa malu bila dirinya belum pernah pacaran. Seakan-akan stempel ‘tak laku’ ditempelkan di dahi yang itu akan memalukan dirinya. Mereka pun berlomba-lomba untuk menggaet lawan jenis hanya sekadar agar tak jadi bahan olokan teman-temannya.

...Orang tua yang tak paham bahayanya gaul bebas, turut andil dalam memberi angin segar bagi pintu perzinaan...

Itu dari segi remaja dan pergaulan teman-temannya. Orang tua yang tak paham bahayanya gaul bebas, turut andil dalam memberi angin segar bagi pintu perzinaan. Orang tua bingung ketika anaknya tak ada yang mengencani di malam Minggu padahal si anak sendiri memutuskan tak mau pacaran. Belum lagi masyarakat yang individual dan tak peduli terhadap orang lain ketika ada yang melakukan kemaksiatan. Parahnya, negara juga tak mau tahu betapa bahayanya membiarkan remaja gaul secara bebas. Tabloid-tabloid yang mengumbar aurat, tayangan TV dan film yang mengarah ke ajakan mendekati zina, semua itu mudah mendapatkan izin terbit dan tayang. Dan semua itu makin menjadi di momen Februari karena ada perayaan maksiat bernama Valentine’s day.

Jadilah fenomena remaja yang ketagihan gaul bebas seperti kisah di atas semakin merebak. Di saat ia ingin taubat, sejauh mata memandang ajakan maksiat yang disaksikannya. Jadilah ia gamang untuk berubah menjadi muslim yang baik. Padahal Allah itu Mahapemurah dan pengampun asalkan manusianya sendiri benar-benar taubatan nasuha. Tapi gimana mau taubat kalau lingkungan malah mendorong dia makin berbuat maksiat?

Sobat remaja, kemaksiatan karena gaul bebas memang seolah-olah benang kusut yang sulit diuraikan dalam masyarakat kita. Tapi bila saja kita mau peka, ada satu ujung pangkal dari semua kemungkaran yang terjadi yaitu diterapkannya system demokrasi dan dicampakkannya syariah Islam dari tengah-tengah umat. Seperti kita semua tahu bahwa demokrasi ditopang oleh salah satu tiang bernama kebebasan berperilaku.

...kemaksiatan karena gaul bebas memang seolah-olah benang kusut yang sulit diuraikan dalam masyarakat kita. ...

Jadilah ada anggapan salah bahwa tiap orang bebas berperilaku semaunya tanpa ada satu pihak pun yang boleh melarang. Hal ini diperkuat dengan semakin parahnya virus sekulerisasi yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Gaul bebas terjadi karena pelakunya tidak menyadari bahwa kebebasan yang direguknya di dunia bakal dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Mereka, penganut gaul bebas itu lupa bahwa ada Allah yang Mahamelihat. Bila saja mereka menyadari bahwa tak ada satu jengkal tanah pun yang bebas dari pengawasannya, niscaya mereka tak berani berbuat melanggar syariat-Nya.

So, membasmi gaul bebas, ya basmi akarnya dulu. Yupz, demokrasi dan sekulerisme sudah waktunya dibuang ke tong sampah peradaban. Karena ada yang dibuang itu artinya ada yang dipake. Syariat Islam saja yang pantas untuk memimpin peradaban dunia yang beradab. Bila ini yang diambil, so pasti gaul bebas bakal dilibas. Gak bakal ada cerita remaja yang ketagihan berbuat maksiat. Hidup jadi aman dan nyaman untuk dinikmati. Jadinya, asik banget kan? Pasti iya donk. Sip dah ^_^
[ria fariana/voa-islam.com]
[email: riafariana@gmail.com]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar