Cari Blog Ini

Jumat, 18 Juni 2010

Remaja dikepung hantu

Eit, bukan maksudnya remaja dikepung hantu betulan, tapi dikepung film-film hantu. Sebut saja di Planet Hollywood, pertengahan November 2006, menjelma menjadi Planet Hantu. Pemutaran perdana film Bangku Kosong diisi dengan belasan remaja berseragam sekolah yang berambut acak-acakan dan dengan celak tebal. Mereka memasang wajah yang bermaksud seram, tapi malah jadi lucu.

Di luar bioskop, sebuah mobil ambulans menunggu. Mobil ini dilengkapi dengan tim paramedis segala. Tim tersebut bertugas merawat penonton yang, siapa tahu, "terguncang" setelah menonton film horor garapan sutradara Helfi Ch. Kardir itu.

Film horor Bangku Kosong adalah salah satu film horor buatan anak negeri. Seperti bisa kamu liat di berbagai bioskop, film-film Indonesia dipenuhi dengan hantu. Sepanjang tahun 2007 saja diproduksi 30 film horor, sedangkan tahun 2006 ‘hanya’ sekitar 20 judul. Mungkin kamu pernah ngelirik poster film-film hantu lokal seperti Tali Pocong Perawan, Tiren (Mati Kemaren), Pulau Hantu 2, Sumpah Pocong Di Sekolah, Hantu Perawan Jeruk Purut, dsb. Tahun-tahun sebelumnya kita ditakut-takutin dengan film Terowongan Casablanca, Hantu Jeruk Purut, Pocong, Kuntilanak, Pulau Hantu dan kawan-kawannya. Semuanya konon laris manis ditonton banyak orang. Temanya apa? Pokoke semua tentang hantu dan syaithon. Hiii…!

Kenapa harus hantu?
Kalo dulu kita lebih kenal en ‘akrab’ ama hantu impor macam Vampire or Dracula, Zombie, Frankenstein, Mummy, Vampire Mandarin, kini kawula muda mungkin lebih akrab ama yang namanya Hantu Jeruk Purut en Suster Ngesot. Khusus Suster Ngesot kayaknya fenomenal banget dan udah jadi ikon perhantuan di tanah air setelah Kuntilanak.

Mengorbitnya hantu-hantu lokal nggak lepas dari makin semangatnya para sineas lokal untuk memproduksi film horor made in Indonesia. Nggak cuma dimunculin ikon-ikon baru seperti Suster Ngesot ama hantu bocah botak di film Jelangkung, tapi para sineas lokal juga menggali lagi hantu-hantu lawas seperti Kuntilanak, Genderuwo dan Pocong.

Hantu-hantu yang bermunculan di layar bioskop – juga layar televisi – bisa dibilang sebagai kebangkitan film nasional. Setelah para sineas lokal terpuruk dan babak belur dihajar film-film Hollywood, Bollywood juga Mandarin, dunia perfilman Indonesia bernafas lagi. Adalah film Jelangkung garapan sutradara Rizal Mantovani & Jose Purnomo yang mengawali kebangkitan film nasional…dan film hantu, pastinya. Film itu konon ditonton oleh 1,2 juta orang.

Setelah itu, berbagai film-film ber-genre horor dibuat. Sebut saja Tusuk Jelangkung garapan Dimas Jayadiningrat, Kafir karya Sujiwo Tejo, Rumah Pondok Indah, Lentera Merah, Kuntilanak, Lawang Sewu, Pocong, Pulau Hantu, Suster Ngesot, Lewat Tengah Malam, Lantai 13, dsb. Menurut catatan media massa, film-film itu laris manis tanjung kimpul! Rata-rata film horor ditonton sampai setengah juta penonton. Salah satu film hantu yang paling rame ditonton adalah Kuntilanak garapan sutradara Rizal Mantovani yang ditonton oleh 1,5 juta penonton.

Ternyata, film-film horor Indonesia dan hantu-hantu lokalnya juga disukai di negeri jiran Malaysia. "Film `Beranak Dalam Kubur` sukses karena kami menerima pendapatan sebesar 250.000 ringgit (Rp 725 juta) setelah diputar satu bulan di bioskop Kuala Lumpur dan Lembah Klang. Baru satu minggu diputar, kami pun mendapat pemasukan 40.000 ringgit (Rp 116 juta)," kata juru bicara Sendi Mutiara Sdn Bhd, Dankerina, di Kuala Lumpur, Kamis, 26/6-2008.

Sendi Mutiara terhitung perusahaan yang meraih sukses besar setelah mengedarkan film-film Indonesia, terutama film-film hantu. "Yang paling sukses adalah ketika kami mengedarkan film Pocong 2 dan Pocong 3," kata Dankerina, pada acara preview film "Hantu Jembatan Ancol" di TGV, Suria KLCC. Film "Hantu Jembatan Ancol" akan mulai beredar di bioskop papan atas Kuala Lumpur dan Lembah Klang, pada Kamis 3 Juli 2008.

Nah, soal keuntungan itulah yang bikin produser dan sineas tanah air semanget 45 nakut-nakutin penonton. Rumah Pondok Indah yang diputar pada awal tahun 2007, misalnya, mencatat jumlah 700 ribu penonton; Lentera Merah yang disutradarai Hanung Bramantyo ditonton 300 ribu orang; Hantu Jeruk Purut karya Koya Pagayo alias Nayato Fio Nuala meraih 790 ribu penonton; Pocong 2 garapan Rudi Soedjarwo meraup 813 ribu penonton pada pemutaran hari ke-26. Sejauh ini, film horor yang berhasil meraup penonton tertinggi adalah film Rizal Mantovani, Kuntilanak, yang menembus angka 1,5 juta penonton! Jika harga tiket bioskop dihitung rata-rata Rp 20 ribu, Kuntilanak telah memperoleh pendapatan kotor Rp 30 miliar.

Padahal, katanya, biaya pembuatan film-film horor nggak semahal film drama apalagi action. Lokasi pengambilan gambar nggak banyak, pemainnya juga yang baru-baru sehingga bisa dibayar lebih murah (kebanyakan pemain top ogah main dalam film horor). Makanya, bikin film horor cukup dengan duit Rp 1,7 miliar. Sementara keuntungan yang diraih terbilang gede. Kalo sudah bisa menyedot 300 ribu penonton aja, maka udah dipastikan balik modal.

Emang, yang namanya film horor, udah sedari dulu menyedot banyak penonton. Indonesia punya sejarah panjang seputar film-film horor. Menurut catatan dunia perfilman, film seram yang pertama kali dibuat adalah Doea Siloeman Oelar Poeti yang disutradarai The Teng Cun pada tahun 1932. pada tahun-tahun itu dunia perfilman nasional banyak diisi hantu-hantu legenda Cina.

Barulah di tahun 1970-an, banyak dibikin film horor dengan hantu lokal, dengan salah satu ikonnya; Suzanna. Sebut aja film Beranak Dalam Kubur yang legendaris itu.

Terus muncul juga film laris Si Manis Jembatan Ancol (1973), yang dibintangi Lenny Marlina dan Farouk Afero, Setan Kuburan (1975) karya sutradara Daeng Harris.

Periode berikutnya, film-film horor tren ditambah dengan adegan seks. Misalnya Yurike Prastika lewat Pembalasan Ratu Laut Selatan (1989) yang kontroversial itu. Film ini meraih 500 ribu penonton, sebuah jumlah yang amat tinggi waktu itu. Film yang laris pada dasawarsa ini antara lain Nyi Blorong (1982), yang membukukan 354 ribu penonton, Nyi Ageng Ratu Pemikat (1985, 236 ribu penonton), Petualangan Cinta Nyi Blorong (1987, 290 ribu), Malam Satu Suro (1988, 290 ribu), dan Santet (1989, 352 ribu). Jumlah penonton 100 ribu ke atas sudah tergolong laris saat itu.

Bermutu nggak?
Okelah film-film horor itu sukses ngeruk keuntungan dari penonton, tapi sebenarnya sukses nggak sih bikin penonton jadi ngacir alias takut? Alias gimana sih mutu film-film itu?

"Hantunya sih nggak seram, tapi musiknya itu yang bikin kaget," katanya Merry, 26 tahun, Account Support Executive Nuskin Indonesia. Merry telah menonton Jelangkung, Kuntilanak, dan Bangku Kosong.

Kembali pada bagian awal tulisan ini, yang film Bangku Kosong diputar di Planet Hollywood, ternyata bukannya bikin seram tapi malah bikin banyak remaja yang nonton pada cekikikan. Ketawa-ketiwi. Nggak ada penonton yang pingsan sama sekali. Lho, ini film horor atau film humor? Ambulan yang udah disiapin produsernya pun nongkrong aja nggak terpakai.

Seorang pengamat film bahkan berkomentar, "Kalau nonton film-film horor sekarang, merindingnya hanya sebentar. Tetapi kalau memutar kembali film-film yang dibintangi Suzanna, rasanya bulu kuduk ini tak mau tidur lagi."

Yup, kudu jujur, kalo secara kualitas, film-film itu kalah kelas. Ini diakui ama Shanker, produser Hantu Jeruk Purut dan Panggil Namaku XXX (2005). Ia nggak ambil pusing dengan kritik pedas soal mutu film horor. Alasannya apa lagi kalo bukan keuntungan. "Sekarang coba lihat berapa film drama yang bisa menembus satu juta penonton dalam satu tahun?" tanyanya. Jadi ini persoalan duit, bukan yang lain. Kalo yang biasa-biasa aja udah laku keras ngapain bikin yang mahal.

Film Rumah Pondok Indah, melalui posternya, bahkan terang-terangan menulis begini; "Cuma buat penggemar film sampah,". Alamak!

Jaga akidah
But, buat kita, Bro en Sis, yang kudu dicermati bukan masalah itu film syerem atau malah bikin ngakak. Mau hantunya baru atau jadul (jaman dulu) kagak ngaruh. Mau suster ngesot atau dokter ngerangkak, maupun kuntilanak, kagak usah dipikirin. Tapi yang kita kudu jaga adalah ketahanan akidah kita.

Film-film seperti itu kan dibuat dari imajinasi alias tahayul. Bentuk para hantu seperti pocong, genderuwo, suster ngesot, dkk., adalah rekaan manusia. Nggak ada catatan resmi apalagi yang disahkan menurut al-Quran dan as-Sunah tentang bentuk-bentuk setan, meski mereka emang bisa mengubah wujud dalam aneka rupa. So, maraknya sinema horor dikhawatirkan bikin orang jatuh pada tahayul alias superstisi.

Begitupula cerita bahwa ada setan yang baik dan suka menolong manusia seperti Casper atau Constantine yang diperankan Keanu Reeves, ataupun Spawn. Mana ada setan bertugas membasmi kejahatan. Kok setan ngelawan setan?

Dalam al-Quran, Allah menjelaskan bahwa ada sejumlah mahluk gaib; yakni malaikat, jin dan iblis. Adapun malaikat adalah mahluk yang selalu taat pada Allah. Sedangkan iblis, Allah sudah kabarkan pada kita bahwa ia punya misi menyesatkan umat manusia. FirmanNya:


“Iblis berkata, ‘Ya Rabb, karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hambaMu yang ikhlas di antara mereka.’” (QS al-Hijr [15]: 39-40)

Dalam menjalankan tugasnya ini, iblis merekrut sejumlah anak buah dari golongan jin dan manusia. Mereka itulah yang dinamakan syetan. Seperti yang tercantum dalam surat an-Naas: “Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia.” (QS an-Naas [114]: 4-6)

Sedangkan jin adalah mahluk gaib yang diciptakan dari api yang sangat panas. Seperti halnya manusia, bangsa jin juga ditaklif oleh Allah untuk taat pada perintahNya. firmanNya:“Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu,” (QS adz-Dzaariyaat [51]: 56)

Perlu kamu ketahui, manusia tidak mampu melihat rupa jin yang aslinya, kecuali jika mereka mendatangi manusia dalam rupa yang lainnya. Misalnya, di jaman Nabi saw., salah seorang sahabat, Abu Hurairah ra., pernah didatangi jin yang hendak menipunya, tapi kemudian Nabi saw. memberikan nasihat kepada Abu Hurairah. Akhirnya jin itu malah mengajarkannya ayat Qursiy (lihat hadits Imam Bukhari no. 2311-red.). So, bisa aja jin muncul ke hadapan kita (hiii…na’uzubillahi min dzalik!) dalam rupa orang yang sudah meninggal, kyai, binatang, bahkan mahluk menyeramkan seperti kuntilanak, genderuwo, pocong, dsb.

Buat kita neh, iblis dan syetan jelas musuh yang nyata. Pantang umat Islam jadi anak buah mereka. Begitu pula nggak pada tempatnya untuk takut. Karena iblis dan syetan adalah musuh yang nyata yang kudu diperangi oleh orang beriman. Yang diperangi di sini bukan seperti digambarkan dalam film-film yaitu dihancurkan oleh Ghostbuster atau program acara Pemburu Hantu yang pernah ada di sebuah stasiun televisi swasta, tapi menjauhkan diri dari godaan mereka. Karena mereka udah pasti akan mencari cara untuk menyesatkan kaum beriman.

Allah Swt. berfirman:

“Dan hasutlah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka (umat manusia) dengan bujukanmu, dan kerahkanlah kepada mereka pasukan berkudamu dan pasukanmu yang berjalan kaki dan bersekutulah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan berjanjilah kepada mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka.” (QS al-Isra 17]: 64)

Permusuhan kita pada iblis dan syetan adalah dengan taat pada Allah. Kita laksanakan syariat Islam di muka bumi, di bawah naungan negara yang menerapkan Islam sebagai ideologinya, yakni Khilafah Islamiyah. Itulah tanda perlawanan kepada mereka. Tapi kalo sekadar ngerapalin mantera, tapi kemudian aturan Allah nggak kita taati—juga nggak mau atau bahkan menolak dakwah untuk menegakkan syariat Islam di muka bumi ini--itu artinya kita kalah en tunduk pada iblis dan syetan. Nah, moga-moga kita bisa menjadi pembasmi hantu yang sesungguhnya, yakni taat pada Allah dan RasulNya en siap memperjuangkan kalimatullah. Allahu Akbar! Usir Iblis! [iwan januar]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar